Labels

Thursday, 22 August 2013

Terpaksa, Haruskah?

Apa sih terpaksa itu? Tentunya beda dong dengan dipaksa. Terpaksa adalah suatu kegiatan yang kita kerjakan tanpa ada keikhlasan dari hati.

Terpaksa itu memang membuat hati dongkol! Tapi 'terpaksa' harus dibiasakan. Agar sesuatu yang terpaksa itu menjadi anugrah terindah. ^^

Aku pernah baca novel yang sama dengan kasusku: "DIPAKSA UNTUK MEMASUKI SEKOLAH PILIHAN ORANG TUA". Kalian pasti pernah beda pendapat kan dengan orang tua dalam memilih keputusan? Begitupun aku dan novelis A. Fuadi. Aku dipaksa untuk masuk sekolah menengah yang jaraknya lumayan dekat dari rumahku, padahal aku maunya di sekolah yang 'katanya' bagus itu. Sekolah yang memang dari dulu sudah menjadi mimpiku. Sekolah yang benar-benar sangat-ini anganku dulu waktu kelas 9SMP-kuidamkan. Tapi aku harus bangun dari mimpi karena orangtuaku, khususnya ibu, "memaksa"ku untuk tetap mengikuti keinginan hatinya. Ceritapun dimulai....

 Keputusan setengah hatipun kulakukan. Dengan muka berhias senyum palsu dan hati yang ogah-ogahan untuk mengisi formulir online, pikiranku berharap, semoga ini hanya mimpi. Ya... mimpi buruk yang benar-benar nyata. Karena dalam tiga tahun berikutnya, aku harus menjalani ketidaksukaanku pada pilihan ibu.

Terbukti setelah dua tahun belajar di sana, kelasku selalu memiliki banyak masalah. Entah dari perseorangan teman-temanku atau dari aku sendiri. Aku bukanlah tipe pemberontak. Tapi di kelas 11 lalu, aku benar-benar tidak betah. Aku mulai sedikit terpengaruh dengan lingkungan yang lebih banyak dampak negatifnya daripada yang baiknya. Puncaknya, masalah dalam kelas kami adalah saat salah seorang temanku yang mengambil soal dari laptop guru yang untuk UKK.(salah murid, salah guru dong!kenapa dia ninggalin laptopnya gitu aja!)

Bisa kalian bayangkan sendiri, kini di kelas 12 kelas kami seperti dipandang sebelah mata oleh guru-guru kami. Padahal yang berbuat salah adalah orang lain, tapi tetap saja kita yang kena hukuman. Kami harus lakukan apalagi? Marah? Percuma! Nangis? Habis-habisin tenanga! Kini harapku hanya satu, : AKU INGIN SEKALI PINTU KEMANA SAJA MILIK DORAEMON ATAU PEMUTAR WAKTU AGAR CEPAT LULUS DAN MENINGGALKAN SEKOLAH YANG MEMBUATKU FRUSTASI ITU!

Aku juga yakin, aku bisa mengenang masa-masa itu dan akan menceritakannya kembali dengan indah, sama seperti novel NEGERI 5 MENARA!

MAN JADDA WAJADA! :D

A-I, 23 Agustus 2013

Tuesday, 13 August 2013

No One Like You

---Orang sepertimu tidak akan dapat kutemui karena tidak ada yang lain selain dirimu yang selalu menemani hari-hariku dan bisa memberikan warna dalam hidupku. Hope you never forget me. 'Cause you always could be special someone in my heart.---Ae Rin

Note    :Fanfic ini adalah lanjutan dari temanku, Rahmalia Febriani yang tidak selesai.
Mungkin ada sedikit perubahan dalam ceritanya. So, Happy Reading my readers!
Cast     : Kim Nana, Ae Rin, Henry Lau, Hangeng.
Genre  : Romance and Friendly.
                                                                                                                                                      
Nana POV

Annyeong. Kim Nana imnida. Aku seorang gadis manja dan ego yang memiliki sahabat yang mampu mengatasi sikap kekanak-kanakku, Ae Rin. Kami bersahabat sejak kecil. Aku beruntung memiliki teman yang mau dan bisa menerima sifat manjaku. Namun, sifat burukku berkurang karena hadirnya seorang pria yang ku cintai diam-diam. Dia teman sekolah Ae Rin. Kami berkenalan sekitar lima bulan yang lalu. Kami bertiga pun semakin akrab. Semakin akrabnya pertemanan kami, semakin dalam ku menaruh hati pada pria itu.
Pagi ini aku bergegas mendatangi namja yang ku cintai, Hangeng Oppa untuk memenuhi janjiku semalam. Bagai mentari yang baru terbit, senyumkupun tak henti-hentinya menghiasi wajah mungilku. Sayang, mood baikku berubah drastis. Ketika ku sampai di taman, tempat Hangeng Oppa menungguku, ku hentikan langkah kakiku karena kaget. Dengan akrab sepasang muda-mudi bercengkrama dengan mesranya. Aku berpikir kalau wanita itu tidak ku kenal aku tidak masalah. Tapi sepasang mataku ini melihat dengan jelas bahwa wanita itu adalah Ae Rin, temanku.
Hatiku terasa sakit seperti dicabik-cabik saat ku tahu orang yang begitu aku percaya bahkan ku anggap dia kakakku, dengan teganya dia mengkhianatiku. Aku kecewa. Sungguh sangat kecewa karenanya.

Nana POV END
 
A-I POV

Tubuh gadis manja itu bergetar menahan amarah. Saking marahnya, dia tak sadar bahwa buku yang dipegangnya jatuh dan menimbulkan suara gaduh.
Dua orang yang dilihatnya tadi pun serentak menoleh ke arah suara berisik itu.
“Nana?” kata mereka serempak.
Namun mereka hanya dapat melihat Nana yang berbalik arah dan menjauh dari tempatnya berdiri.
“Oh, tidak. Dia salah paham!” pekik Ae Rin.
“Salah paham? Apa maksudmu? Kau punya janji juga dengannya? Mengapa dia menjauh?” tanya Hangeng bertubi-tubi.
“Ani.”
“Aku harus mengejarnya,” kata Hangeng sambil mengambil buku Nana yang jatuh.
“Jangan. Biar aku saja. Kau kan masih ada jam kuliah,” sergah Ae Rin.
“Ok. Nanti saja setelah ku pulang dari kampus akan ke rumahnya,” sahutnya singkat.
“Ya. Aku pergi dulu. Maaf ya Oppa.”
Laki-laki itu hanya mengangguk dan berbalik ke kampusnya.

A-I POV END

Ae Rin POV

Aku merasa bersalah. Aku telah menyakiti perasaan temanku, Nana. Insiden tadi terjadi hanya dalam hitungan detik. Andai ada pemutar waktu, tentu ku tak akan melakukan ini pada Nana.
Aku berlari sekencang-kencangnya mengejar Nana. Berusaha menjelaskan yang tadi dilihatnya hanya salah paham.
“Nana, tungguuu!”teriakku.
Tidak direspon! Jangankan menoleh, mendengarku saja tidak. Nana menjadi tuli seketika. Oh, tidak! Ini petaka!
Ku jajarkan langkahku dengan langkahnya. “Nana, dengarkan dulu penjelasanku, ya. Yang tadi tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham. Kau...”
“Tidak ada yang perlu kau jelaskan padaku. Semuanya jelas! Jadi sekarang, kau biarkan aku sendiri!” Nana memotong kalimatku dan langsung memberhentikan taksi yang lewat.
“Tapi, Na. Aku hanya...”
“Cukup Ae Rin. Tolong, biarkan aku sendiri! Dasar pengkhianat!”
Aku hanya bisa diam dan memandangi taksi yang Nana tumpangi menjauh.
“I’m so sorry my best friend...” ucapku lirih.

Ae Rin POV END

Nana POV

Aku menyesal. Aku mengatakannya. Pengkhianat! Ya, kata itulah yang ku lontarkan pada sahabatku. Tapi kini, aku menyakiti hatinya. Menyakitinya karena rasa cemburuku padanya. Ku liat bayangan Ae Rin dari kaca spion. Wajahnya tertunduk lesu. Menandakan dia memang bersalah. Lebih tepatnya aku yang salah paham padanya.
Sampai di rumah, aku mengurung diri di kamar seharian dan hanya keluar bila perutku lapar.

Nana POV END

A-I POV

Besoknya Ae Rin mendatangi Nana di rumahnya. Ditekannya bel dan segera memasang senyum khasnya berharap temannya luluh dan tidak marah lagi dengannya. Dia ingin menjelaskan bahwa kemarin adalah sebuah kesalahpahaman. Ae Rin harap Nana bisa mengerti.
Pintu rumahpun terbuka. Dibaliknya, berdiri sang empunya rumah, Nana. Begitu tahu siapa yang datang, diusirnya tamu itu dari rumahnya.
Pintu kembali ditutup kali ini dengan dibanting. Cukup keras, hingga kusen jendela pun bergetar.

A-I POV END

Nana POV

Aku berlari ke kamarku saat Ae Rin ku usir ketika bertamu ke rumahku. Ada perasaan lega telah mengusirnya. Setidaknya aku telah mengubah mood burukku menjadi sedikit lebih baik.
‘Biarkan saja. Biarkan dia menangis. Biar tahu bagaimana rasanya sakit hati.’
Senyum evil menghiasi wajahku. Namun dalam hati aku tak tega. Masa iya membiarkan teman sebaik Ae Rin menangis. Teman macam apa aku ini? Arrggghh! Ae Rin, jeongmal mianhae!

Nana POV END

Ae Rin POV

Butiran bening itu menghiasi kelopak mataku dan mengalir di pipiku. Ku tatap pintu rumah itu dengan mata sembab. Tidak bergeming! Diam. Aku tidak menyangka Nana akan sekasar itu. Lalu seperti sadar dari mimpiku, ku hapus air mata dan berlari sekencang-kencangnya tanpa arah. Yang dipikiranku hanya satu, mengapa Nana semarah itu? Tak tahukah dia, kalau dia salah paham?
Aku berhenti di taman, yang kebetulan sepi. Tidak ada orang di sini. ‘Akhirnya aku bebas menangis!’
“Aaaaa!!! Kim Nana! Kau jahat! Jaahhaaatt!!! Hiks...”
Aku lega akhirnya aku bisa menangis tanpa ada orang yang memperhatikanku. “Hiks! Nana, aku tahu aku salah. Tapi, tak bisakah kamu tidak mencapku sebagai pengkhianat! Aku benciiii Naaanaa! Hiks.. Hiks...”
“Hey! Bisakah kau diam? Aku paling tidak suka melihat perempuan menangis! Apalagi kau teriak-teriak mengangguku. Berhentilah!” kata suara dari sebrang dengan volume yang lumayan keras.
Aku melongo. Ku hentikan tangisku dan menoleh ke sumber suara. Oh tidak! Ada orang! Mengapa tadi aku tidak melihatnya? Ah peduli amat.
Ku lanjutkan tangisku dan aku kaget ternyata orang itu berjalan menuju ke arahku. Sekarang dia berdiri di depanku. Aku menunduk tak berani menatap wajahnya. Ku kumpulkan keberaniaanku untuk meminta maaf karena tangisanku telah mengganggunya.
“Maafkan aku. Hiks...Aku tidak tahu kalau ada orang di taman ini. Hiks...,” ujarku.
“Ya sudah tak apa. Kau tidak dengar ya? Aku bilang aku paling tidak suka melihat gadis menangis sendirian!” suara itu masih terdengar sama. Bervolume tinggi.
“Ah, iya iya. Maaf. Hiks...Hiks...”ucapku.
Sapu tangan dijulurkannya ke arahku. “Ini. Hapuslah dan jangan menangis lagi!” laki-laki itu mencoba menghiburku.
Ku terima sapu tangan itu dan ku seka air mataku. Tapi tetap saja, tubuhku masih gemetaran menahan tangis.
“Terima kasih,” ucapku sambil memberanikan diri menatapnya. Ada perasaan aneh ketika ku tatap kedua matanya. Hatiku berdebar saat melihatnya. Ya memang matanya begitu indah.
“Air matamu belum kering. Sorry,” katanya tenang sambil mengusap kedua pipiku yang basah.
Dan saat tangannya menyentuh wajahku, mataku membulat kaget.
“Bagaimana? Merasa lebih baik?” tanyanya.
Aku mengangguk. Entah mengapa hatiku berdebar lebih kencang daripada sebelumnya.
“Henry. Siapa namamu?” katanya memperkenalkan diri.
“Aku Ae Rin,” jawabku singkat.

Ae Rin POV END

Henry POV

Hari yang cerah ini membuatku untuk mencari inspirasi melukis. Sayang, rumah ini terlalu ramai untukku melukis. Mungkin, keluar rumah dan ke tempat sepi itu ide yang bagus.
“Ma! Aku pergi dulu.,”pamitku.
“Mau kemana?” tanya eomaku.
“Refreshing sebentar ke taman.”
“Ya sudah. Hanya ke taman ya?”
“Iya.”
Aku menyambar kunci mobil dan langsung ngacir ke taman. Tak lupa kamera untuk memotret objek yang untuk desaign gambarku.

#SKIP

At Park...

Benar kan dugaanku? Taman ini indah dan aku akan mendapatkan inspirasi melukis. Kesempatan ini langsung ku gunakan dengan mengarahkan kamera ke suatu objek yang menurutku bagus.
Goresan pensilku terus menari-nari di atas kertas putih. Sketsanya sudah ku dapat, tinggal mempolesnya sedikit menjadi gambar yang bagus. Ketika aku sedang fokus mengendalikan pensilku, suara teriak disertai tangisan orang mengganggu konsentrasiku.
Aku masih berusaha tak bergeming dan memusatkan pikiranku untuk gambarku, tapi mendengar suara tangisannya, ada rasa kesal dan iba. Mengapa dia menangis meraung-raung? Yang ku tahu, orang menangis seperti itu tandanya dia punya problem tapi tidak tahu harus bercerita kepada siapa dan bertindak apa. Banyak alasan lain yang memenuhi kepalaku, tapi sekarang ini bukan waktunya mencari jawaban atas pertanyaanku.
Suara itu terdengar lagi. Saking kesalnya, ku bentak si yang punya suara.
“Hey! Bisakah kau diam? Aku paling tidak suka melihat perempuan menangis! Apalagi kau teriak-teriak mengangguku. Berhentilah!” bentakku.
Hening. Akupun lega dan melanjutkan gambarku. Tapi lima detik kemudian dia menangis lagi. Marah karna dia tidak tahu diri dan membuatku kesal dari tadi, ku tinggalkan gambarku. Aku bangkit dengan hati yang teramat pake sangat dongkol.
Ku lihat dia menyadari kedatanganku. Dia berubah jadi sedikit tenang, tapi tangisnya tidak reda.
Aku memang paling tidak suka melihat orang menangis, terlebih perempuan. Dan sekarang, aku telah berdiri di depat gadis itu. Dia tertunduk.
“Maafkan aku. Hiks...Aku tidak tahu kalau ada orang di taman ini. Hiks...,” katanya lirih.
“Ya sudah tak apa. Kau tidak dengar ya? Aku bilang aku paling tidak suka melihat gadis menangis sendirian!” balasku yang masih kesal.
Tapi begitu melihat wajahnya, aku terkesima. Rasa kesalku berubah menjadi iba.
Ku keluarkan sapu tangan dari saku dan kuberikan padanya.
“Terima kasih,” ucapnya.
Aku seolah bisa membaca kesedihan gadis yang berada di depanku. Kuberanikan diri untuk menghapus air matanya.
“Air matamu belum kering. Sorry,” kataku.
Matanya membulat ketika tanganku mengambil sapu tangan dan mengusap kedua pipinya. Kalau dilihat lebih dekat, dia cantik. Aku baru melihat gadis secantik gadis ini. Aku berkenalan dengannya. Ae Rin, nama gadis ini. Cantik, seperti wajahnya. Aish, apa-apaan sih kau Henry!
Kamipun mengobrol. Dari ceritanya, aku mengerti mengapa dia sesedih tadi. Kesalahpahaman. Faktor utama sebuah ikatan pertemanan meregang.
“Sudah merasa lebih baik?” tanyaku.
“Ne. Gomawo sudah mau mendengarkan ceritaku,”ujar gadis itu tersenyum.

Henry POV END

A-I POV

Senja semakin merangkak. Setelah hatinya sedikit lebih tenang, Ae Rin memutuskan untuk pulang. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih pada Henry, namja yang baru saja dikenalnya, tapi mampu membuatnya nyaman saat menceritakan kejadian tadi pagi.
“Henry-ssi, aku pulang dulu. Gomawo atas waktunya,” pamit Ae Rin.
“Cheonma. Rumahmu di mana, Ae Rin?”
“Tidak jauh dari sini. Hanya butuh sekitar 20menit-an dari taman ini. Wae?” tanya gadis itu.
“Bagaimana kalau ku antar kau pulang? Sekalian agar aku tahu rumahmu,” tawar Henry.
Deg!
Baik sekali, pikir Ae Rin. Yeoja itupun mengiyakannya.
“Apa tidak merepotkan Henry-ssi?
“Tidak. Aku malah senang kalau kau tidak menolak ajakkanku. Aku ambil barang-barangku dulu ya,”katanya tersenyum.
Omona! Pipi chubby-nya mengembang saat dia tersenyum. Gantengnya dia, pikir Ae Rin. Dia terpukau ketampanan namja yang belum 24 jam dikenalnya. Henry menghilang beberapa menit. Menit ketiga dia kembali. Melihat Ae Rin masih duduk, dia mencoba mengajaknya pulang.
“Hey! Kau melamun, Ae Rin-ssi?” Tidak direspon Ae Rin.
Henry bingung. Dia merasa ada yang salah dengan Ae Rin. Namja itu melihat Ae Rin aneh, karena tiba-tiba Ae Rin tersenyum sendiri.
“Yeoboseo! Ada orangkah dihadapanku?” tanya Henry sambil berdiri di hadapan Ae Rin.
Gadis itu terperangah. Henry tertawa melihat ekspresi kaget Ae Rin.
“Yak! Henry-ssi! Kau mengagetkanku!” kesal Ae Rin.
“Kau aneh. Aku tinggal sebentar, kau malah duduk sambil senyum-senyum sendiri. Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan?” balas Henry bertubi-tubi.
Ae Rin diam. Dia tidak ingin namja itu tahu kalau dari tadi, dia membayangkan wajah Henry yang imut.
“Aku? Aku.. aku tidak memikirkan apapun,” jawabnya terbata. Gugup!
“Oh, ya ya! Aku tahu. Kau melamunkan aku kan? Hayo ngaku!” ledek Henry.
“Huuu! Sok tau kau, Henry-sii! :P” ledek Ae Rin sambil memeletkan lidahnya.
Ae Rin ingin sekali bilang, Iya Henry-ssi. Aku melamunkan pipimu yang chubby kayak mochi. Tapi itu tidak mungkin. Dia tidak bisa membayangkan jika itu benar-benar dia ucapkan. Rasa malu, pasti menghantuinya sepanjang malam.

#SKIP

At Ae Rin’s house...

“Mau mampir dulu, Henry-ssi?” tawar Ae Rin ketika mobil sudah berhenti di depan rumah Ae Rin.
“Hmm, gak usah. Aku pulang saja. Sudah sore, nanti orang rumah mencariku. Boleh minta nomor telepon?”tanya Henry.
Ada perasaan ragu. Memberikan nomor pribadinya ke orang belum dia kenal lama adalah perbuatan pantang oleh Ae Rin. Tapi itu tidak berlaku sekarang. Dia pikir, Henry berbeda. Dan bisa menjadi teman yang setia mencurakan isi hatinya. Tanpa diminta dua kali Ae Rin memberikan nomornya ke Henry.
“Thanks, Ae Rin,” ucap Henry sambil menyimpan dan misscall Ae Rin.
“Ok. Hati-hati ne,” kata Ae Rin.
“Siipp!” lagi-lagi sambil tersenyum dan membuat pipi chubbynya mengembang. Ae Rin turun dari mobilnya. Perlahan mobil Henry menjauh dan hilang dari pandangan Ae Rin.
Ah Henry! Kenapa perasaanku kacau saat bersamamu?! Keluh hatinya melonjak girang.

A-I POV END

Henry POV

At Henry’s home...

“Kau dari mana, sayang?” tanya eoma.
“Dari taman.”
“Dari taman? Kenapa malam baru pulang. Kamu tahu gak? Pergi dari pagi gak ada kabar dan pulang malam,” omel eoma.
“Aku emang tadi ke taman Ma. Aku...”
TRING!!
Ku rogoh kantong celanaku. Ponselku menandakan ada pesan masuk. Ae Rin! Ada apa dia meng-sms-ku? Entahlah. Yang jelas tanganku melejit menekan tombol untuk membuka pesan darinya.
From: Ae Rin
Thanks Henry-ssi. Kau sudah mengantarku pulang tadi.
Ku harap kita berteman baik. Your friend, Ae Rin.
Aku tersenyum. Ku balas: You’re welcome. I hope too. Now, we’re friends. Ok!
Semenit kemudian dia membalas, ^_^ Chingu!
Eoma merasa ada yang aneh denganku karena terus senyum-senyum sendiri saat menerima pesan dari Ae Rin.
“Henry..”
“Ne Mah,” jawabku singkat.
“Are you okay? Dari tadi Mama liatin, kamu senyum-senyum sendiri. SMS dari siapa itu? Jangan-jangan yeojachingumu ne?”tanya eoma.
“Ani. She is my new friend. Kami baru aja berkenalan di taman. Dan aku pulang terlambat karena harus mengantarnya pulang juga.”
“Ah, masa? Kayaknya ada hubungan lain kamu sama dia?”ledek eoma.
Aku melirik ke arah eoma yang sekarang tersenyum meledekku. Aku menggeleng malu. “Iya. Kami hanya berteman, kok, Ma.”
“Oh. Ya sudah. Sekarang mandi. Kita makan malam bareng. Mama siapkan ya.”
Aku mengangguk dan berlari ke kamarku.

Henry POV END

Ae Rin POV

Karena lelah seharian menangis di taman, sampai rumah dan setelah makan, aku langsung ke kamar dan langsung tidur. Tapi sebelum tidur ku beranikan diri untuk mengirimkan pesan singkat ke Henry sebagai ucapan terima kasih. Aku senyum-senyum sendiri lagi saat dia membalas SMSku. Ah, rasanya seperti bermimpi. Aku masih tidak percaya, ada orang lain yang masih peduli padaku. Heran? Ya memang. Aku heran pada diriku sendiri karena dengan mudahnya bercerita pada orang yang benar-benar belum ku kenal. Tapi saat menumpahkan unek-unekku tentang Nana pada Henry di taman tadi, rasanya... nyaman. Belum pernah merasa seperti itu ketika berbicara dengan seorang laki-laki. Bahkan dengan Hangeng Oppa pun, aku sungkan untuk bercerita.
Mungkin gak ya, aku bertemu lagi dengan Henry? Semalam suntuk aku gelisah tidak bisa tidur karena Henry. Racun apa yang telah hinggap dikepalaku hingga pening? Entah. Yang jelas. Aku senang dan nyaman saat bersama Henry. Kutulis kisahku bersama Henry dalam buku biru harianku.

Ae Rin POV END

A-I POV

Senyum tidak pernah lepas dan masih terus hinggap di wajah gadis itu saat seminggu setelah berkenalan dengan Henry. Perlahan, Ae Rin bisa melupakan masalahnya dengan sahabatnya lagi. Senyum Ae Rin berkembang ketika hari ini Henry mengajaknya jalan. Sejak kejadian di taman itu, mereka semakin akrab. Dengan segera Ae Rin bersiap-siap dan menunggu Henry di halte dekat taman yang seminggu lalu mereka kunjungi. Tiba-tiba mata Ae Rin melihat sosok yang sangat dikenalinya. Mungkinkah dia bermimpi? Tidak! Sosok itu nyata dan sedang berjalan sendiri sambil melamun tanpa melihat disekelilingnya. Mata Ae Rin masih mengamati sosok itu. Dia sampai tidak sadar kalau Henry sudah disampingnya sekitar 3 detik yang lalu.
“Hi, Ae Rin!” sapaan itu membuat Ae Rin kaget.
“Yak! Henry-ssi! Kau selalu membuatku kaget!”balas Ae Rin.
Henry tertawa.
“Salah sendiri, kau yang melamun. Sedang lihat apa?” tanya Henry.
“Ah, enggak. Bukan apa-apa.”
“Oh. Ayo naik, kita pergi sekarang!”
“Iya. Ta.. tapi. Oh celaka! Kau tunggu di sini, Henry-ssi!” ujar Ae Rin panik.
Henry kaget karena Ae Rin malah berlari ke sebrang jalan. “Kau mau kemana?” teriaknya.
Ae Rin tidak menoleh. Henry yang sadar ada mobil yang melaju kencang hanya bisa berteriak, “Ae Rin-ah!!” Terlambat. Gadis itu terpental beberapa meter setelah mobil itu menabraknya. Tapi Ae Rin berhasil mendorong tubuh seseorang yang sedari tadi dia perhatikan di halte. Henry berlari ke arah Ae Rin yang tergeletak lemah. Darah segar mengalir dari kepalanya. Orang yang berhasil selamat dari tabrakkan itu menangis keras saat tahu yang mendorong tubuhnya tadi adalah Ae Rin. Masih dalam pandangan tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi, tangan orang itu memangku kepala Ae Rin yang masih mengeluarkan darah.
Dengan cekatan, Henry-dibantu orang yang selamat karena didorong Ae Rin tentunya- membawa Ae Rin ke rumah sakit. Dalam perjalanan, orang itu terus menangis dan memangil nama Ae Rin agar dia segera bangun. Henry mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada dipikirannya sekarang adalah Ae Rin harus sampai di rumah sakit agar dia tidak kehabisan darah.
“Dokter! Suster! Tolong temanku! Dia korban tabrak lari!” teriak orang itu ketika mereka tiba di rumah sakit.
Henry tertegun. Teman Ae Rin? Apakah dia Nana?tanyanya dalam hati. Dia kembali tersadar saat tubuh Ae Rin dibawa oleh para perawat untuk segera ditangani dokter.
“Maaf, kalian tidak boleh masuk. Silakan menunggu di luar,” ucap salah seorang suster saat tubuh Ae Rin di bawa masuk ke ruang perawatan.
“Tapi.. Ah, tolong selamatkan nyawa temanku!”
“Akan kami usahakan. Silakan menunggu di luar. Akan kami kabari nanti.”
Orang itu hanya bisa pasrah dan kembali menangis. Dia tidak bisa tenang sampai akhirnya tangannya merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Ditekannya nomor seseorang.
“Oppa.. Ae Rin! Dia korban tabrak lari. Ae Rin menyelamatkanku dari mobil maut itu. Aku? Di rumah sakit X. Iya, Oppa aku tunggu,”ucapnya lirih.
Klik sambungan diputus.
Henry hanya bisa tertunduk saat ini. Semua ini salahku. Kalau saja aku mencegahnya dia lari, pasti kejadiannya tidak seperti ini, jerit hatinya.
“Nana, bagaimana keadaan Ae Rin sekarang?” tanya seorang laki-laki.
Nana hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menangis tanda ia tidak tahu.
“Sabar, Nana. Aku yakin, dia bisa bertahan,” ujar si laki-laki sambil memeluk Nana.

A-I POV END

Nana POV

Aku berutang nyawa pada orang yang kuanggap si pengkhianat itu. Ya... Aku berutang nyawa pada Ae Rin, sahabatku sendiri. Aku menyesal sudah menganggapnya pengkhianat gara-gara dia sedang asyik ngobrol dengan Hangeng Oppa. Pantaskah aku menyebut diriku sahabatnya? Rasanya tidak! Oh my God, Please help her!I never forgive me if something bad happen with my best friend!
Aku menangis tiada henti. Hangeng Oppa berusaha menghiburku. Gagal. Air mata masih terus mengalir dari kedua kelopak mataku.
“Sorry ganggu. Kamu Nana temannya Ae Rin?” tanya seorang pria.
Aku dan Hangeng Oppa kompak mengangkat kepala sambi melihat intens si pria itu, lalu mengangguk.
“Iya, aku temannya Ae Rin,” ucapku lirih.
“Aku tidak menyangka, Ae Rin melakukan ini sampai rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan orang yang sudah menganggapnya pengkhianat hanya karena orang itu salah paham dengan Ae Rin.”
Mataku tercengang saat dia berkata seperti itu padaku. Telingaku panas mendengarnya. Ingin sekali kubekap mulut lelaki itu. Tapi kata-kata yang dia ucapkan memang benar. Dan aku mengakui bahwa tindakanku salah besar.
“Jika aku jadi Ae Rin, mungkin aku tidak akan menolongmu saat itu karena untuk apa menolong orang yang sudah tidak menganggap kita sebagai sahabatnya lagi. Hanya akan merugikan diri sendiri.”
Pedas sekali kata-kata yang dikeluarkannya. Sebenarnya lelaki ini siapanya Ae Rin, sih? Hatiku dongkol mendengarnya.
“Kau sebenarnya siapa sih? Aku memang pernah marah sama Ae Rin karena keegoisanku. Tapi aku masih menganggapnya sahabat dan...”
“Pengkhianat. Itu kan yang ingin kamu ucapkan? Nana, seharusnya kau bisa merubah sikapmu itu. Jika masih menganggap Ae Rin pengkhianat dan bukan lagi sahabatmu, tolong, jauhi Ae Rin! Jangan sampai membuatnya menderita.”
Air mataku jatuh lagi saat mendengar tuturan dari mulut lelaki tadi.
“Maaf, tuan. Tolong tinggalkan kami berdua. Aku tahu kau tidak suka dengan sikapnya Nana, tapi mohon pengertiannya karena sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat,” Hangeng Oppa membelaku.
Mata pria itu menatap tajam Hangeng Oppa dan dia mengangguk tanda mengerti.
Sementara aku, ditemani Hangeng Oppa, menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Berharap Ae Rin masih bisa diselamatkan. Dan dalam hati aku berjanji untuk merubah sikapku dan meminta maaf atas kesalahanku pada Ae Rin.

#SKIP

Sosok berpakaian putih itu akhirnya keluar juga. Aku dan Hangeng Oppa bergegas menghampiri dokter itu. Tapi, langkah kami didahului oleh pria yang telah mengeluarkan kata-kata pedasnya tentang sikapku pada Ae Rin.

Nana POV END

Henry POV

“Bagaimana keadaannya, dok?” tanyaku berbarengan dengan orang yang baru ku tahu namanya.
Dan dia adalah Kim Nana, teman Ae Rin yang sudah mengecap Ae Rin pengkhianat. Kami berpandangan sekilas, lalu seolah membuang muka, ku alihkan pandanganku ke dokter yang memeriksa Ae Rin.
Dokter menghela napas panjang. Dia menggeleng. Aku panik. Pasti ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada Ae Rin.
“Teman kalian...” kata dokter menggantungkan pembicaraan.
“Ae Rin kenapa, Dok? Tidak ada hal buruk yang menimpanya, kan?” tanyaku.
“Ada. Dia berhasil kami selamatkan. Hanya saja..”
“Dokter, tolong jangan setengah-setengah membertitahukannya,” sergah Nana.
Aku menoleh ke arah Nana. Wajahnya panik. Ah! Dia panik karena pasti merasa bersalah bukan karena menganggap Ae Rin sahabatnya,pikirku.
“Ae Rin berhasil melewati masa kritisnya. Hanya saja karena benturan di kepala yang cukup keras membuatnya dia sedikit amnesia. Dia lupa dengan kejadian yang baru menimpanya. Tapi sewaktu dalam penanganan kami, dia mengigau dengan menyebut nama seseorang. Adakah diantara kalian yang bernama Henry Lau?”
“Saya, dok.”
“Ok, Henry. Kuharap kamu bisa membantu mengembalikan ingatan Ae Rin. Dia juga sudah siuman, dan kalian boleh menjenguknya. Tapi jangan langsung diajak ngobrol panjang atau apapun itu yang akan membuatnya berpikir keras untuk mengingat sesuatu. Saya permisi dulu,” jelas dokter panjang lebar.
“Iya dokter. Terima kasih,” kataku sembari masuk ke kamar di mana Ae Rin dirawat.

At Ae Rin’s room...

Perlahan gagang pintu ku putar pelan. Aku, Nana dan pria yang terus disamping Nana masuk dengan sangat hati-hati agar tidak menganggu Ae Rin. Ae Rin menoleh ke arah kami dan dia tersenyum.
“Henry-ssi...” panggilnya pelan.
“Ne, Ae Rin. You fine?” tanyaku sambil duduk di sebelah ranjangnya.
“Of course. But, can you tell me about this?”balasnya sambil menunjuk ke kepala.
Aku mengangguk. “Yeah. Tapi nanti ketika kau sudah sembuh.”
Mata Ae Rin berbinar. Dia lalu menoleh ke arah Nana yang sedang menangis dan pria tadi. Keningnya berkerut, mencoba mengingat sesuatu.
“Apa aku kenal denganmu?” tanya Ae Rin ke Nana.
Nana diam tak menjawab. Dia masih menangis. Ae Rin mencoba mencari jawabannya dengan menatapku.
“Henry-ssi, apa aku mengenal mereka?”
Aku bingung tidak tahu harus menjawab apa.
“Hmm... Tidak.”
“Masa sih? Sepertinya aku mengenal mereka. Wajahnya sungguh tidak asing. Tapi siapa, ya?” Ae Rin mencoba mengingat-ngingat.
“Aaa! Kepalaku! Kepalaku sakit. Henry-ssi, jebal?!”
Ae Rin berteriak-teriak kesakitan minta tolong. Aku panik. Pria yang bersama Nana langsung memanggil dokter yang tadi menangani Ae Rin. Aku dibantu Nana mencoba menenangkan Ae Rin. Entah karena kesakitan atau ada hal lain yang membuat dia histeris, terlebih saat dia melihat Nana. Ae Rin lalu pingsan karena saking kelelahan mengerang menahan sakitnya.

Henry POV END

A-I POV

“Bagaimana keadaan Ae Rin, dok?”
“Ada sesuatu yang membuatnya memaksa untuk mengingat semua kejadian yang dia alami. Jika dalam waktu dekat ini saraf otaknya stabil dan tidak mengegang karena akibat kecelakaan 10 jam yang lalu, dia akan segera pulih dan cepat untuk mengembalikan pikirannya,” jelas dokter panjang lebar.
Henry, Nana dan Hangeng menghela napas lega. Tapi tentu saja, rasa cemas masih meliputi ketiganya.
“Sayangnya, setelah saya periksa tadi, Ae Rin masih harus banyak istirahat dan kalian tidak boleh membawakan sesuatu yang memaksa dia untuk mengingat banyak.”
Tiga orang yang sedang duduk di depan dokter tercengang. Mereka saling pandang satu sama lain.
“Maksudnya?” tanya mereka kompak.
“Dalam seminggu ini, jangan beritahu dia apa yang sebenarnya terjadi pada Ae Rin. Oh, ya. Untuk menjaga agar sarafnya tidak menegang seperti tadi, usahakan agar Ae Rin tidak bertemu dengan orang yang benar-benar dikenalnya atau kenangan buruk tentang orang-orang yang dikenalnya.”
“Maksud dokter ada sesuatu yang menganggunya. Dan memori yang bisa menyebabkan saraf Ae Rin kembali tegang adalah kenangan buruk yang sudah lama membekas dalam ingatannya?” tanya Henry.
Dokter hanya bisa mengangguk lemah. Henry melirik ke arah Nana dan Hangeng. Nana menitikan air matanya karena dia tahu, Ae Rin seperti ini karena dirinya.

#SKIP

Seminggu kemudian....

“Henry-ssi. Kapan ya aku bisa pulang? Aku nggak betah di sini,” ucap Ae Rin lirih.
“Hmm.. aku nggak tau. Yang jelas, kau harus segera sembuh dulu baru bisa pulang,” jawab Henry sekenanya.
Ae Rin terdiam sedih. Bukan itu jawaban yang diinginkannya.
“Ae Rin, kau kenapa?”
“Aku sedih Henry-ssi. Aku gak bisa mengingat apapun. Kecuali orangtuaku yang ada di Jepang dan dirimu. Aku merasa aku mempunyai teman selain dirimu. Tapi kenapa aku gak bisa mengingatnya, ya?”
“Aku tau kenapa kau hanya mengingatku. Kau juga pasti tau hal itu.” Henry tersenyum nakal pada Ae Rin.
“Emangnya apa? Kok, aku nggak tau tuh?” tanya gadis itu sambil menatap Henry.
“Masa sih, gak tau.”
“Yee, emang bener. Aku nggak tau yang kau maksud. Emangnya apa?”
“Pipi chubbyku. Ya, kan?” kata Henry setengah meledek.
Sontak saja wajah gadis yang terbaring lemah itu kaget. Lalu tersenyum dengan pipi memerah.

A-I POV END

Ae Rin POV

Sudah seminggu ini aku masih tidak bisa mengingat apapun kecuali memoriku dengan Henry dan masa kecilku sewaktu tinggal di Jepang. Aku juga gak bisa percaya kalau aku jadi korban tabrak lari yang membuatku harus dirawat dengan luka di kepala dan membuatku sedikit amnesia. Sedikit? Itu kata dokter. Bagiku, amnesia yang kualami sungguhlah parah dan sangat menyiksaku. Aku bosan dan benar-benar ingin pulang. Apalagi setelah orangtuaku kembali ke Jepang karena urusan dinas mereka.
“Henry-ssi. Kapan ya aku bisa pulang? Aku nggak betah di sini,” ucapku lirih.
“Hmm.. aku nggak tau. Yang jelas, kau harus segera sembuh dulu baru bisa pulang,” jawab Henry sekenanya
Ah, alasan itu terus yang diberikan Henry. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku sekarang.
“Ae Rin, kau kenapa?”
“Aku sedih Henry-ssi. Aku gak bisa mengingat apapun. Kecuali orangtuaku yang ada di Jepang dan dirimu. Aku merasa aku mempunyai teman selain dirimu. Tapi kenapa aku gak bisa mengingatnya, ya?”
“Aku tau kenapa kau hanya mengingatku. Kau juga pasti tau hal itu.” Henry tersenyum nakal padaku.
“Emangnya apa? Kok, aku nggak tau tuh?” tanyaku sambil menatap Henry.
“Masa sih, gak tau.”
“Yee, emang bener. Aku nggak tau yang kau maksud. Emangnya apa?”
“Pipi chubbyku. Ya, kan?” kata Henry setengah meledek.
Aku kaget mendengarnya. Mengapa dia bisa berpikiran seperti itu? Henry menatapku intens. Aaah! Aku sampai tidak berani menatapnya. Karena malu, kualihkan pandanganku ke luar jendela di samping tempat tidurku.
“Ae Rin-ah...”panggil Henry.
“Ne,” jawabku singkat tapi tetap melihat pemandangan di luar jendela.
“Liat aku,”
Aku masih tidak berani menatapnya. Dan tanpa kuduga Henry menutupi pemandangan di luar dengan tubuhnya. Dia duduk di dekatku. Ku beranikan diri menatapnya. Hasilnya? Salting dan... yah begitulah.
“Kau nampak kikuk Ae Rin? Wae?” tanya Henry.
Napasku tercekat. “Hmm... anio.”
“Ae Rin. I’m so sorry.”
Aneh. “Untuk apa?”
Henry diam. Dia menghela napas.
“Karena aku membaca ini,” jawab Henry sambil menunjuk buku kecil berwarna biru. Buku yang tidak asing bagiku. Tapi aku lupa itu buku apa dan punya siapa. Apakah itu punyaku? Entah aku tidak tahu. Aku menatap Henry bingung. Dan Henry bisa membaca pikiranku.
“Buku siapa? Bukuku kah itu?” tanyaku pada Henry.
Henry mengangguk dan mengembalikan buku itu padaku. Aku membacanya. Dan ternyata memang benar, buku itu buku catatan harianku. Ada sedikit rasa kesal ketika tahu Henry dengan lancangnya membaca buku itu. Tapi amarahku padam saat dia bilang, “Aku hanya ingin tau banyak tentangmu. Siapa tau, dalam buku itu ada hal yang bisa mengembalikan ingatanmu.”
“Tapi...”
“Kau boleh marah karena itu.”
“Aishh! Bukan itu.”
“Lalu?”
“Mengapa kau mau membantuku?”tanyaku.
Henry diam. “Tapi, terima kasih sudah membantuku mengingat dan berusaha mengembalikan memoriku,”lanjutku.
Henry masih diam. Dan aku masih bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.

Ae Rin POV END

Henry POV

Pasti Ae Rin akan marah. Dan aku harus terima itu. Biarlah dia marah karena aku sudah membaca buku diarynya. Tapi yang ku dapatkan adalah dia tidak marah seperti yang ku khawatirkan. Dia hanya berkata, “Mengapa kau mau membantuku?”tanyanya. Ingin seketika aku bilang, ‘Karena aku mencintaimu.’ Aku tahu mungkin terlalu cepat. Namun, ini adalah momen yang tepat dan semoga Ae Rin juga mau menerima perasaanku. Pede sekali kau Henry!Kalau Ae Rin tidak sehati denganmu bagaimana?tanya hatiku. Ah, peduli amat! Toh aku bisa melihat sepertinya Ae Rin juga menyukaiku. Memang sih bukan sebagai pacar tapi teman. Hiks! Aku menggalau!
L
“Hello Henry-ssi?” Aku tersadar saat Ae Rin menepuk pelan tanganku.
“Eh..” Respon yang tidak bagus.
“Yak! Kau melamun dan tidak mendengarkan ceritaku dari tadi? Sungguh jahat sekali kau!”
“Hmm.. hm... Mianhae. Emang tadi kau cerita apa?” tanyaku terbata.
“Sepertinya aku sudah mulai bisa mengingat sesuatu. Tapi masih sedikit karena kepalaku suka sakit saat mencoba mengingatnya. Ah, Henry-ssi! Apa kau kenal Nana dan Hangeng? Apa aku juga mengenalnya? Jebal, bantu aku mengingat! Karena aku yakin mereka itu orang terdekatku dulu. Hiks... siapa sebenarnya mereka? Aku benci memoriku yang tidak bisa mengingat. Hiks,” Ae Rin melemparkan buku kecil itu ke luar jendela lalu terisak.
“Ae Rin-ah...” panggilku lirih sambil memeluknya erat. Mencoba menenangkan emosinya. Dia makin larut dalam tangisnya.
“Hiks...Henry, bantu aku. Hiks...Sungguh aku tidak suka dengan keadaanku sekarang,” ujar Ae Rin sambil menangis.
Aku tidak tega dan merasa iba. Sekarang memang benar-benar pasti. Aku memang mencintai Ae Rin
“Aku yakin kau bisa mengingat semuanya Ae Rin. Aku akan membantumu mengembalikan ingatanmu. Aku janji,” ucapku lirih sambil melepaskan pelukan kami.
Ku hapus air matanya dengan punggung tanganku. Ae Rin sedikit bisa tersenyum. “Gomawo.”

#SKIP

Sudah dua bulan Ae Rin masih betah untuk menginap di rumah sakit. Ingatannya masih belum pulih, tapi dia masih berusaha untuk mengembalikan ingatannya. Setidaknya dia sedikit lebih ceria dibandingkan seminggu setelah dia kecelakaan dua bulan lalu.
“Kau mau mencoba mengingat lagi, Ae Rin?” tanyaku.
“Iya. Semoga yang ini aku bisa mengingatnya,” jawabnya.
Hampir sejam aku mencoba melatih Ae Rin untuk mengingat. Hasilnya? NOL BESAR! Dia tidak mampu mengingat apapun kecuali aku dan orangtuanya. Padahal sudah berulang-ulang dia membaca buku biru yang dulu menjadi temannya yang pernah dia lemparkan ke luar jendela. Dia frustasi.
“Aku lelah terus-menerus begini. Huuuftt!”
“Jangan menyerah Ae Rin! aku tau kau pasti bisa. Fighting!”
Ae Rin tersenyum. Manis seperti dulu waktu pertama kali aku bertemu dengannya di taman.
“Akan ku coba lagi,” katanya sambil membaca buku biru itu.

Henry POV END

A-I POV

September, bulan indah di tahun ini-menurut author lho ini-kini menjadi anugrah terindah untuk Ae Rin. Dua minggu lalu, Ae Rin diperbolehkan pulang. Dan kini, sedikit demi sedikit dia bisa mengingat kejadian yang menyebabkan dia amnesia.
“Coba ulangi!” perintah Henry.
“Hmm, saat itu di halte ini aku sedang menunggumu yang mau mengajakku jalan. Karena kau belum datang, ku alihkan pandangan ke taman itu waktu kita pertama kali bertemu. Saat itu aku melihat seorang gadis yang ku kenal, dulu kalau sekarang aku lupa. Hehehe. Gadis itu berjalan di sebrang jalan itu sambil melamun dan dia tidak menyadari ada mobil di belakangnya yang melaju kencang. Kemudian aku berlari ke sana untuk mendorong tubuhnya. Untungnya, dia selamat. Dan sialnya, aku jadi amnesia,” jelas  Ae Rin panjang lebar sambil tersenyum.
Henry yang sedari tadi duduk di kursi halte tempat Ae Rin menunggunya dulu mendengarkan dengan intens. Dia nampak puas dengan kemajuan mengingat gadis yang berdiri di depannya. Gadis yang bisa membuatnya jatuh hati. Gadis yang sangat dicintai dan disayanginya. Tapi bukan sebagai sahabat melainkan sebagai kekasihnya.
Ae Rin ikut duduk di samping Henry. Sambil membaca buku biru catatannya, dia berharap agar Henry tidak berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya yang menulis sosok Henry dalam buku biru itu karena tentu saja akan membuatnya malu. Sayangnya, hal itu tidak terjadi.
“Ae Rin~ah!” panggil Henry.
Ae Rin menoleh. Matanya menatap lekat-lekat pria yang sudah banyak membantunya.
“Ada yang ingin ku sampaikan padamu.” Menggantung.
“Ne?”
“Seharusnya sudah ku katakan sewaktu aku ingin mengajakmu jalan tiga bulan yang lalu. Tapi karena insiden kecelakaan itu baru sekarang aku bisa mengungkapkannya.”
Ae Rin menutup bukunya. Dia makin penasaran. “Ada apa sebenarnya?”
Henry menghela napas. Inilah saatnya, Henry!ucap hatinya. Dia menoleh ke Ae Rin dan berkata, “Aku... Aku mencintaimu, Ae Rin.”
Ae Rin ternganga. Ae Rin pikir Henry pasti bercanda. Matanya masih menatap Henry menunggu kalimat yang akan diucapkan Henry selanjutnya walau sebenarnya dia sudah tahu Henry mau bilang apa. ‘Aku bercanda ding.’ Sayangnya, dia salah besar.
“Saat pertama kali bertemu denganmu di taman itu, memang aku merasa kesal karena suara tangismu yang mengangguku. Tapi setelah aku tau banyak tentangmu aku merasakan ada sesuatu yang lain. Aku sadar perasaan itu hanyalah euforia sesaat. Sayangnya aku salah besar. Dan aku benar-benar sayang dan sangat mencintaimu. Mungkin itu lebay. Tapi itulah perasaanku sekarang. Ae Rin...”
Ae Rin masih mematung. Henry melanjutkan, “Maukah kau jadi yeojachinguku?”

A-I POV END

Ae Rin POV

“Maukah kau jadi yeojachinguku?” pertanyaan itu terlontar dari mulut Henry, pria yang sering muncul dimimpi dan alam nyataku.
Aku bingung. Aku memang menyukai Henry. Kukira Henry hanya menganggapku sebagai teman. Dan omongannya tadi hanya sebuah candaan. Tapi ternyata...
“Kau boleh untuk mengatakan, ‘Tidak’ Ae Rin. Janganlah takut. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku padamu. Aku juga tidak memaksamu untuk jadi pacarku. Tapi aku butuh jawabanmu sekarang. Please! ‘Cause I cann’t doing something without your answer.”
Aku mengalihkan pandangan saat Henry selesai dengan ucapannya.
“Ae Rin... Please!” Henry meminta sekali lagi.
Aku kembali melihat matanya. Sekarang dia memang benar-benar serius. Matanya tidak terlihat kalau sekarang dia sedang bercanda. Mukanya lumayan panik menanti jawabanku. Akupun geli melihatnya. Aku tersenyum dan menganggukan kepalaku. “Nado, saranghae.” Henry mendesah lega. Dia memelukku.
“So?”
“Kau harus panggil aku Oppa.”
Aku tertawa. “Kalau aku tidak mau?”
“Kau boleh panggil aku My lovely.”
“Anio,” ucapku menggelengkan kepala.
“Lalu?”
“My handsome mochi.”
Henry kesal. Dia tidak setuju aku memanggilnya dengan sebutan kue itu. Aku tertawa keras saat dia bersungut-sungut karena mendengar penjelasanku, “Nama itu terinspirasi dari kedua pipimu yang tembem kayak MOCHI.”
Henry semakin kesal dan memanyunkan bibirnya. Semakin ke depan, semakin tawaku meledak.

#SKIP

Setahun sudah aku resmi menjadi pacarnya Henry. Dan selama itu pula aku sudah berhasil untuk meningat sebagian besar memori masa laluku. Sekarang permasalahannya adalah aku masih belum tahu siapa gadis yang ku tolong dan orang yang bernama Nana dan Hangeng.
Pagi ini, aku dan Henry sibuk membersihkan rumahku. Karena ini hari Minggu dan Henry sedang libur kuliah, dia bersedia membantuku membersihkan rumah yang keadaannya sudah seperti kapal pecah. Henry hanya bisa menggelengkan kepala saat membersihkan rumahku yang berantakkannya minta ampun.
“Ae Rin~ah! Tak bisakah kau merawat rumahmu sendiri?” tanyanya.
Aku menggeleng. Sebenarnya rumahku berantakkan bukan karena aku malas. Tapi karena waktu itu aku terlalu memforsir diriku agar bisa mengingat kembali dalam satu tahun. Karena sering merasakan sakit di kepala, aku suka tidak bisa mengendalikan emosiku dan ku obrak-abrikkan seluruh isi benda yang ada di rumahku. Itu ku lakukan jika Henry masih kuliah dan dua hari tidak datang ke rumahku.
Aku rasa,di luar kamarku keadaannya jauh lebih baik daripada di dalam kamarku. Setelah selesai merapikan dan membersihkan rumah, Henry menawarkan untuk membantuku membersihkan kamar. Tapi aku menolaknya dan menyuruhnya untuk makan. Henry tidak mau sampai seluruh bagian di rumahku bersih total.
Dan inilah reaksi Henry saat melihat kamarku,
“Omona! Ini kamar yeoja atau kapal pecah?”
Dia melirikku. Aku hanya cengar-cengir melihatnya.
“Sudah ku bilang, mending tidak usah membersihkan tempat ini. Lagian aku tidak suka tidur di sini. Aku lebih suka tidur di kamar orangtuaku,” kataku membela diri.
Henry gemas sambil mengacak-ngacak rambutku. Dengan nada pasrah akhirnya dia berkata, “Aku tidak yakin sekarang aku ada di kamar seorang gadis. Tempat ini cocok dipanggil gudang bukan kamar. Pokoknya habis ini, kau harus menyiapkan banyak makanan.”
Tawaku meledak. Henry dengan cekatan merapikan kamarku. Aku ikut membantunya. Malu sih, karena tanggapan buruk yang dilontarkan sesorang tentang kamar sendiri. Apalagi yang sekarang mengomentari kamarku ini adalah pacarku sendiri. Namun nampaknya Henry tidak terlalu mempermasalahkannya. Karena dia tahu, pasti dulunya kamarku tidak seburuk ini.

Ae Rin POV END

Henry POV

Aku merebahkan diriku di atas sofa biru ini. Ah! Lelah juga setelah seharian penuh membantu Ae Rin membersihkan rumahnya. Syukurlah saat ini semuanya sudah selesai. Hufft! Kegiatan ini lumayan membuat badanku pegal-pegal. Kusumpalkan headset di telinga sembari ku pejamkan kedua mataku sebentar. Lagu jazz yang mengalir lembut membuatku sedikit melupakan rasa lelahku.
Mataku berair karna mengantuk. Niatku yang hanya tidur ayan, tapi malah keasyikkan untuk melanjutkan mimpiku sore ini.
Aku terbangun saat Ae Rin membelai pipiku.
“Oppa, bangun!”
“Hmmm...” ucapku singkat.
“Oppa...!” Ae Rin masih mencoba membangunkanku.
“Ne?”  suaraku sedikit parau.
“Mandilah dan segera makan. Kau nampak lelah setelah membantuku membersihkan rumah.”
Bukannya bangun, tapi aku malah kembali mengatupkan mataku.
“Oppaa! Bangun!!”
“Anio.”
“Isssh, kau ini. Perlukah aku bawakan air ke sini dan menyirammu agar segera bangun?”
Aku mengangguk. Ae Rin frustasi.
“Yak! Tunggulah! Aku ambilkan sekarang.”
Aku memeletkan lidah. “Nggak masalah, kamu pasti gak bakal tega menyiramku dengan air,kan?”
“Aku menyerah,” kata Ae Rin akhirnya.
Dia beranjak pergi meninggalkan diriku di sofa. Tapi dengan sigap aku menahan langkahnya. Dia menoleh, “Ada apa? Kau lapar dan mau makan kan, Oppa?”
Aku menggeleng dan menariknya agar duduk kembali.
“Terus kau mau apa?” tanyanya.
Aku menatap wajah dan matanya. Masih seperti dulu. Perlahan aku menarik tubuhnya dalam pelukanku dan berbisik, “Menjadi milikmu seutuhnya. Ae Rin, jeongmal saranghae.”

Henry POV END

A-I POV

Gadis itu memejamkan matanya saat merasakan kehangatan dari tubuh Henry. Entah mengapa ada sedikit perasaan tentram dan damai di hatinya. Tiba-tiba, Ae Rin merasakan sakit di kepalanya. Seolah-olah, dia bisa melihat kejadian yang sama dulu saat seseorang memeluknya erat seperi Henry sekarang. Dia juga melihat wajah seorang perempuan yang ditolongnya di jalan. Wajahnya sama seperti perempuan yang menjenguknya dulu. Lalu Ae Rin juga ingat, dia pernah memberikan jam tangan kepada perempuan itu. Siapa namanya? Ah, Ae Rin lupa! Dia mengerang pelan, berharap Henry tak mengetahuinya. Tapi makin lama kepalanya serasa pusing. Dunia seperti berputar cepat. Karena tidak kuat, gadis itupun pingsan.

#SKIP

Ae Rin terbangun saat seorang gadis membelai rambutnya dengan lembut. Dia mengerjapkan kedua matanya, berharap bisa melihat orang itu dengan jelas. Keningnya masih berkerut mencoba mengingat-ngingat. Dia yakin, orang yang ada di sampingnya kini adalah orang yang sama dalam bayangannya tadi dan juga orang yang berhasil dia selamatkan dulu.

A-I POV END

Nana POV

Seharian ini aku tidak bisa berhenti menangis. Hangeng Oppa selalu berusaha menbujukku agar tenang, tapi nihil. Mataku masih tetap menatap Ae Rin. Ah, sahabatku yang dulu sangat baik dan selalu pengertian dengan sikapnya yang mandiri kini terbaring lemah di kamar tidurnya. Mungkin sudah sejam yang lalu dia tak sadarkan diri. Dan semua ini tidak akan terjadi kalau saja... Air mataku tumpah lagi. Tak sanggup ku jelaskan perasaanku sekarang.
Aku tersadar saat katup mata Ae Rin terbuka. Dalam keadaan setengah sadar, dia kembali mengerjapkan matanya untuk bisa melihat dengan jelas. Aku tersenyum dan mengusap air mata dengan punggung tanganku.
“Ae Rin,” ucapku.
Sayangnya dia masih belum ingat siapa aku. Dia menoleh ke arah laki-laki yang pernah kutemui di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, mencoba meminta jawaban.
“Apa aku mengenalmu?” tanya Ae Rin.
Hanya itu yang bisa dia ucapkan. Tidak lebih dan tidak kurang.
“Apakah kamu orang yang bernama Nana?”
Aku terkejut. Senang. Tapi masih dengan hati was-was.
“Iya. Aku Nana, Ae Rin. temanmu. Kamu ingat aku kan?”
Ae Rin diam saja. Lalu dia melanjutkan, “Kenalkah kamu dengan gadis yang ku tolong di taman?”
Aku mengangguk.
“Berarti kamu sahabatku. Sahabat baikku. Ah! Terima kasih Tuhan. Kau telah mengembalikan ingatanku.”
Ae Rin memelukku. Erat, seperti dulu dia memelukku saat ulang tahunku setahun yang lalu.
“Kamu mengingatku sepenuhnya?”
“Iya. Ingat ini, ‘
Orang sepertimu tidak akan dapat kutemui karena tidak ada yang lain selain dirimu yang selalu menemani hari-hariku dan bisa memberikan warna dalam hidupku.’?”
Aku melepaskan pelukannya dan mengangguk lagi. Dia juga masih ingat akan motto persahabatan kami.
“Ae Rin, aku minta maaf, ya.”
“Untuk apa?” tanyanya
“Karena aku, persahabatan kita menegang. Karena aku, kamu jadi korban tabrak lari. Dan karena aku,...”
“STOP Nana!” Ae Rin memotong kalimatku. Dia melanjutkan, “Sahabatku dari dulu dan sekarang adalah kamu.”
Aku memeluk Ae Rin lagi. Menangis dipelukkan sahabat yang dulu pernah ku anggap si pengkhianat ini.
“So, my friends. We started our friendship again! Dimulai hari ini,” kata Ae Rin ke arahku, Hangeng Oppa dan laki-laki itu, Henry.
Aku dan Hangeng Oppa tersenyum dan mengiyakan pernyataan temanku itu. Tapi tidak untuk Henry.
“Just friend?”
Ae Rin menoleh ke arah Henry. Dengan setengah menggoda dia bilang, “Of course. Why not?”
Kami terbahak saat melihat ekspresi Henry yang menekukkan wajahnya. Kasian... -_-

Nana POV END

Ae Rin POV

My problem is over. Yeah, aku sudah bisa mengingat sahabat-sahabatku, Nana dan Hangeng Oppa. Aku juga sudah berhasil mengembalikan memoriku yang hilang. Dan yang terpenting, aku tidak akan bisa mengingat dan menyembuhkan penyakit amnesiaku jika tidak ada My Mochi Oppa, Henry Lau.
“Thanks, Oppa.”
“Untuk?”
“Kesetiaanmu, kesabaran dan perhatianmu padaku. Gomawo.”
Dia hanya mengangguk.
“Nana....”
“Ne?”
“Hope you never forget me. 'Cause you always could be special someone in my heart. My best friend.”
“Ada juga yang lupa itu kau Ae Rin~ah. Bukannya Nana,” kata Henry.
“Aku kan lupanya karena beneran lupa...” kataku cemberut.
“Yak! Henry~ssi! Kau membuat Ae Rin sedih. Minta maaf atau ku suruh kau yang tidak-tidak dan tidak pernah terbayangkan olehmu.”
Henry ketakutan. Dia segera menghampiriku dan meminta maaf sebelum Nana mengeluarkan kutukannya. Nana dan Hangeng Oppa tertawa melihatnya. Ah, hidup ini indah jika kita melihat dari segi keindahannya.
“Ae Rin, aku minta maaf.”
“Aku tidak memaafkanmu,” kataku sambil memeletkan lidah dan berusaha berlari menjauhinya.
“Yak! Jangan begitu dong, chagi.”
“Wwwllleeee. Aw! Oppa! Lepaskan, aku!” kataku setengah meronta.
Henry tidak membiarkanku lolos. Dia malah membawaku pergi ke taman tempat kita pertama kali bertemu.
“Kau gak bosen, Oppa ke taman ini?” tanyaku sambil duduk di kursi taman.
“Anio. Aku senang di sini.”
“Kenapa emangnya?”
“Karena ini adalah tempat pertama kali aku bertemu denganmu. Lagipula, pemandangannya indah. Melebihi My Dreamland,” jelas Henry.
“Kau punya dreamland sendiri Oppa?”
“Iya.”
“Kalau boleh tau, apa pulau impianmu itu, Oppa?” tanyaku penuh selidik.
“Mencintai kamu sepenuhnya, Ae Rin,” jawabnya tersenyum.
Khas. Sama seperti dulu. Pipinya mengembang seperti mochi. Ah, ini dia bagian yang aku sukai dari dia.
“Chagi...”
“Apa?”
“Saranghae. You’re my speciall someone. ‘Cause no one like you, honey. At least I still love you.”
Henry tiba-tiba memeluk dan mencium keningku.
“Me too, My Lovely. I love you so much.”

Ae Rin POV END

A-I POV

Pemandangan sore hari di taman ini menjadi berkali lipat lebih cantik dari biasanya. Sepasang insan yang telah puas memadu kasih di taman itu kini bergegas. Meninggalkan taman indah itu untuk pulang.

A-I POV END

A-I, with SJ 23 MEI 2013

Romantika Cinta Berakhir pada Pernikahan

Bismillah...

Kali ini event menulis yang diselenggarakan lewat facebook bertema "Romantika Cinta Berakhir pada Pernikahan". Alhamdulillah, antologi cerpennya yang berjudul "Ketika Ijab Qabul Terucap" sudah terbit bulan Juli lalu. Namun, bukunya baru kuterima tadi. Berkisah tentang 19 cerita cinta yang Insya Allah berawal dan berakhir indah. Sayangnya, dibandingkan cerpen yang lainnya, cerpenku termasuk yang tidak terlalu menyentuh. :P (maklum kan belom pernah ngerasain hal itu)

Sinopsis:

Berbagai kisah cinta yang berawal dan berakhir indah. Kisah cinta yang mengharap janji suci terucap. Walaupun di tengah perjalanan kisahnya penuh liku. Harapan janji suci itu terangkum dalam butiran-butiran do'a setiap insan yang merasakannya. Terbingkai indah dalam sebuah buku antologi "Ketika Ijab Qabul Terucap"


Friday, 21 June 2013

Istimewa

Bismillah...
Buku terbaru! ^_^
Judulnya ISTIMEWA

Terinspirasi dari kisah kehidupan seorang wanita. Ya, memang. Bicara soal wanita tentu tidak akan ada habis-habisnya. Perjuangan menghadapi lika-liku kehidupan, pengorbanan, kasih sayang, dan kisah inspriratif lainnya yang membuat seorang PJ event lomba menulis di event dalam grup kepenulisan Annisa, mengadakan lomba tentang wanita. Dan semua penulisnya adalah wanita!



Aku bangga. Aku bersyukur menjadi seorang wanita. Mengapa? Karena wanita itu... ISTIMEWA! ^_^

Wednesday, 19 June 2013

Sejuta Wajah di Balik Debu

Bismillah...

Buku antologiku yang ke-6. Hanya ada satu puisiku dengan temas diskriminasi sosial. Sebelumnya aku ngirim FF (flash fiction). Tapi karena pemula dan mungkin ada 'sesuatu' yang belum bikin greget kakak PJ, jadi naskahku tidak lolos.


Buku terbitan penerbit baru (Penerbit Camar) ini, bertujuan semoga yang membaca khususnya bisa lebih menghargai lagi perbedaan tanpa memandang diskriminasi sosial.

INDONESIA CINTA DAMAI!

Ibu Adalah Surgaku

Bismillah....

Setelah sebulan lebih gak nulis di blog karena harus menyelesaikan Fanfiction terbaruku, kesempatan kali ini akan ku gunakan untuk promo buku antologiku yang kelima. Berupa kumpulan puisi spesai hari ibu yang ku dedikasikan untuk ibuku.



Sinopsis:

Terima kasih, Ibu: Ibu Adalah Surgaku

Ibu. Satu kata yang paling utama nan indah dalam dunia, tuk terapal. Derajatnyapun tiga tingkat dibanding Ayah. Ada Surga di telapak kakinya. Keramat bagi anak-anaknya. Satu kata yang tak akan ada habis-habisnya tuk mengurai semua; betapa besar dan tak tercacahnya banyak perjuangan, pengabdian dan pengorbanan seorang isteri yang bergelar Ibu tersebut.
Luasnya samudra rangkaian ucapan, kata pujian, harapan, terima kasih, rasa rindu, syukur dan doa kita sebagai seorang anak, tak sebanding; tak akan mampu membalas budi jasa seorang Ibu yang bergelar Pahlawan juga Bidadari Surga dunia dan Akhirat.


---

Event menulis puisi ini sudah lama. Dari bulan Desember 2012. Tapi baru terbit kurang lebih setengah tahun kemudian dari pengumuman kontributor yang lolos. ^_^
Hanya sebuah aksara puisi belaka memang, tapi di dalamnya ada ungkapan cinta seorang anak untuk Ibundanya tersayang.

Mom, I love You! :*

Monday, 6 May 2013

Untaian Kisah Sedihku

Bismillah...

Puisi ini adalah puisi pertama yang diposting di blogku. Puisi ini karya dari seorang calon penulis yang berniat untuk menerbitkan novel tapi karena naskahnya belum selesai dan dia malas untuk menyelesaikannya jadi sampai sekarang masih terbengkalai naskahnya. -_- (mending saya, ya kan :P)


Untaian Kisah Sedihku

(Indriyani, 6 MARET 2013)

Derai air mata
Membasahi pipiku
Tak ada kata...
Terucap dari bibirku

Semua harapku tlah sirna
Tak ada lagi cinta
Hidupku berubah jadi kelana
Saat kau siakan cinta...

Perasaan yang tak dianggap...
Membuatku semakin sakit
Sunyinya malam gelap...
Membuat hatiku makin menjerit

Pahit perjalanan cintaku
Yang ku rasa tak ada duanya
Tak ada yang mengertiku
Semua terasa hampa...



Hadeuh-hadueh! Galau .... merajalela!

Puisi kedua Indriyani....


Kisah Yang Tertunda


(Indriyani, 21-02-2013)
Kamu biarkan aku mengukir namamu dihatiku
Kamu tarik aku ke dalam dunia fanamu
Membuat aku merasa berguna
Dan merasa dipuja
          Kamu lukiskan pelangi di hariku
          Kamu terangi malam-malamku
          Membuatku tak bisa jauh darimu
          Dan selalu ingin dekat denganmu
Yang kamu lakukan
Takkan pernah kulupakan
Meski kamu memaksa
Aku takkan pernah bisa
          Kisah yang kamu torehkan
          Kisah yang kamu tuliskan
          Kisah yang kamu bawa
          Mungkin akan menjadi kisah yang tertunda



Tidak perlu lagi menggalau. Tapi sayangnya virus untuk menggalau masih terus mengintai para remaja dan penulis amatiran seperti saya dan Indriyani.

Hiks!!! (

Thursday, 2 May 2013

Tulisan Pertama

Bismillah...


   Kemarin nggak sempet buka facebook. Pas tadi bawa NB ke sekolah dan on pagi-pagi di kelas :D (kesempatan mencuri waktu sebelum bel masuk) ada kabar buku antologi keempatku sudah terbit. Alhamdulillah, thanks my Allah.

   Buku keempatku ini berjudul 'FIRST WRITING' bagian pertama karena ada 4 part dalam event menulis kali ini yang di adakan salah satu grup kepenulisan di facebook.

   Berkisah tentang pengalaman menulisku dan mengirimkan karyaku untuk pertama kalinya ke publik. (ya, walaupun hanya self publishing, tapi tetap ada rasa bangga. hehehe) Seperti biasa, karyaku kali ini bukanlah kisah nyata, melainkan curhatan sang penulis amatir.


Sinopsis : 'Menulis adalah sinkronasasi antara imajinasi dan apa yang ada di dalam hati.'


   So, menulislah apa yang ada di pikiran kalian. Janganlah takut akan tulisan yang kalian buat. Ukirlah sejarah hidupmu mulai dari aksara agar sejarah hidupmu dapat abadi. ^^

Friday, 19 April 2013

Anugrah Untukku

Bismillah...


Jadwal kosong, lanjutkan menulis!!!


Kali ini cerita tentang anugrah yang Allah berikan untukku. Apa itu?






Awalnya aku juga tidak tahu. Tapi sekarang dan perlahan aku tahu dan mengerti. Allah menganugrahkan aku sebagai anak perempuan yang bisa dibilang sebagai siswa yang mampu bersaing karena sering menempati di peringkat 10 besar. Ya, aku berusaha jadi anak pintar yang selalu mendapatkan ranking. Walau sebenarnya, ayah ibuku tidak mengharuskan aku bersekolah hanya untuk peringkat. "Yang penting ilmu. Ranking hanya bonus," kata ibuku. Semoga dengan terus meningkatkan rankingku-sebagai bonus belajar juga-aku dapat melanjutkan cita-citaku kelak. Amin.


Next...


Aku memiliki hobi menulis, dan pembuktian sebagai aku sebagai penulis pemula yang masih amatiran adalah dengan mengirimkan naskahku pada event-event menulis (Tapi masih berbentok antologi) Dan Alhamdulillah, aku kini memiliki tiga buku antologi.



Lanjut....



Gadis yang memiliki tubuh yang indah pasti bolehlah dikatakan sempurna. Sayang, aku tidak memiliki itu. Tulang belakangku memiliki kelainan. Ya, aku pengidap skoliosis atau kelainan tulang belakang. Awalnya minder? Pasti. Malu? Banget. Alhamdulillah, semua itu hilang karena orang-orang terdekatku selalu mensupport agar bangga dengan anugrah yang satu ini.




Sebenarnya masih banyak. Tapi hanya ini yang bisa ku tulis malam ini.
Sleep!!!

And never stop dreaming!

Wednesday, 17 April 2013

Ujian Hidup adalah Kasih Sayang Allah

FF ini terinspirasi dari kisah nyataku dan kisah nyata salah seorang temanku yang sama-sama pengidap skoliosis.


Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Dia selalu menguji kita dengan ujian karena Allah tahu, kita adalah hamba-Nya yang paling kuat untuk melewati ujian tersebut. Dan ketika seorang hamba dinyatakan ‘LULUS’ ujian, maka di sinilah derajat manusia tersebut, Insya Allah akan ditinggikan oleh-Nya.
 

Aku dilahirkan 16 tahun lalu sebagai anak perempuan yang normal. Fisikku, Alhamdulillah sempurna dan tidak kurang dari satu apapun juga. Semenjak kecil sampai menginjak dewasa, aku benar-benar merasa hidupku sempurna. Tapi perasaan itu berubah ketika ku duduk di bangku SMP.
Aku berpikir picik yang menganggap Allah sangat tidak adil saat aku didiagnosa dokter ahli tulang dan saraf tulang belakang. Dokter bilang bahwa aku mengidap kelainan tulang belakang, skoliosis. Astagfirullah. Penyakit apa itu? Sungguh, itu adalah hal yang tidak pernah terduga dan terpikirkan olehku. Aku memang awam akan penyakit itu. Sedikit yang ku tahu mengenai skoliosis, yang berarti kelainan tulang belakang yang menyebabkan tulang itu melengkung ke samping, kiri atau kanan.
Aku drop. Aku merasa hidupku sudah tidak lama lagi. Kepesimisanku merubahku menjadi orang yang mudah menyerah dan selalu berkeluh kesah. Terlebih banyak orang yang mulai menilaiku karena kelainan yang ku derita. Setiap hari, ingin ku menangis sembari mengeluhkan penyakitku secara langsung ke Allah. Aku bertanya, ‘Ya Allah, apa maksud Engkau memberikan penyakit ini untukku?’ Pertanyaan yang ku lontarkan selalu sama, setiap malam sebelum ku tidur karena lelah menangis.
Syukurlah, aku masih memiliki orang tua yang mampu memberiku semangat dengan motivasi yang mereka berikan. Saat mendengarku menangis, ayahku selalu menasihatiku bahwa ujian ini hanya sementara. Jika dilewati dengan sungguh-sungguh dan percaya akan adanya keajaiban, Insya Allah, apa yang diharapkan akan terjadi. Aku mendengarnya seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Tidak berbeda dengan ayahku, ibuku juga melakukan hal yang sama. Hanya beliau lebih keras dan tegas untuk menyadarkanku dari kata ‘pesimis’.
Ayah dan ibuku lalu mencari pengobatan alternatif untuk kesembuhan tulang belakangku. Alhamdulillah, jalur alternatif itu cocok dan tidak seperti yang ku bayangkan. Dipikiranku waktu belum mengenal pengobatan alternatif adalah cara ‘tabib’ menangani pasiennya adalah dengan tehnik tusuk jarum dan ternyata baru ku tahu itu adalah pengobatan akupuntur.
Dan pengobatan ini bisa dibilang lebih mengenaskan daripada akupuntur. Seminggu sekali, aku harus menahan rasa sakit seperti ranting pohon yang ingin dipatahkan. Dengan optimis, aku percaya bahwa ini adalah proses pembentukkan diriku agar menjadi orang yang lebih ‘sempurna’. Setelah beberapa bulan terapi, diriku merasakan perubahan-perubahan yang baik.
Keajaiban memang benar adanya. Dia datang di saat yang tidak pernah ku duga. Setengah bulan lebih sehari hari berpuasa, aku mendapatkan sesuatu yang ganjil. Punggungku awalnya lebih besar sebelah kanan, karena dulu tulangku ‘ngumpet’ ke sebelah kanan, yang didiagnosa dokter tak bisa normal lagi, perlahan-lahan menyusut. Aku menyadarinya ketika sedang tidur-tidur ayan di kamar sambil membaca Shalawat Nabi. Malam itu adalah malam ke-17 bulan Ramadhan, malam diturunkannya Al-Qur’an, kitab suci umat Islam atau yang lebih sering didengar, malam Nuzulul Qur’an.
Aku teriak memanggil ayah dan ibu. Aku ceritakan semuanya kepada mereka. Ibu melihat dan memegang punggungku. Mereka mengucapkan syukur termasuk aku. Sungguh malam yang penuh berkah Allah, saat kitab suci Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW. Malam di mana aku percaya bahwa Allah memang sayang padaku. Malam di mana aku melupakan untuk selama-lamaya dan menjauhi sikap pesimisme.
Kini aku benar-benar yakin. Semua yang terjadi padaku itu adalah bentuk sayang Allah untukku. Semua yang sudah ku alami selama ini adalah proses Allah mengubahku menjadi manusia yang lebih baik lagi. Semua yang ku harapkan dan ku inginkan memang tidak pernah menjadi kenyataan. Namun, Allah tahu yang ku butuhkan bukan yang ku inginkan. Dengan bukti nyata, Allah memberiku anugrah ‘kekurangan’ dalam fisikku, tapi tidak untuk bidang akademisku.


Cerita nyata ini ada karena dari Surah Al Insyirah ayat ke-5 dan 6.

Oleh itu, maka (tetapkanlah kepercayaanmu) bahwa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan, (Sekali lagi ditegaskan): bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan. (Q.S Al Insyirah:5-6)

Tuesday, 16 April 2013

Penyesalan


   Tadinya FlashFiction ini pengen aku jadiin cerpen. Tapi bingung ngelanjutinnya gimana. Jadi dihentiin aja sampai sini.Happy reading! ^^


   “Aku mencintaimu, Rafty,” suara itu memang terdengar pelan tapi sangat keras dan langsung menikam jantungku. Tak terbayangkan bagaimana kagetnya aku saat Diaz menyatakan perasaannya padaku.   Aku memang menyukai Diaz, temanku yang selalu ada dalam keadaan apapun. Tapi kukira, dia tidak memiliki rasa untukku. Makanya waktu Ryan menyatakan cintanya untukku, langsung kuterima cintanya. Sekarang, tanpa alasan apapun, dia datang menemuiku dan langsung bilang, ‘Aku mencintaimu....’   Aku diam menatap matanya lalu menunduk menyembunyikan mukaku. Diapun bisu dalam beberapa menit, menungguku mengeluarkan kata-kata yang sangat diinginkannya. Oh, petaka! Mengapa baru sekarang dia menyatakannya? Mengapa tidak dari dulu sebelum aku sama Ryan? Dan mengapa penyesalan selalu datangnya terlambat?   “Rafty...” suara Diaz yang menggantung memecahkan keheningan diantara kami.   Aku kembali mengangkat mukaku. Mata kamipun bertabrakkan.   “Maafkan aku, Diaz. Aku tak bisa,” kataku sambil menangis.
   “Tapi kenapa? Apakah kamu tak mencintaiku?”   Dengan mata yang berlinang air mata aku menatapnya dan saat itupun aku membisu.   “Jawab Ty!”   “Aku.. Aku.. Aku.... Bukan aku tidak mencintaimu. Tapi....”   “Tapi apa? ”   Tanpa kujawab semua pertanyaannya, aku langsung pergi meninggalkan Diaz sendiri. Diaz hanya dapat menoleh ke belakangnya, arah dimana aku meninggalkan Diaz seorang diri. Dengan wajah tak bersalah ia langsung mengejarku dan meminta alasan mengapa aku pergi begitu saja meninggalkannya.
   “Aku mohon, jawab aku” dengan nada melas.
   “Aku.. ”   “Katakan.. apakah kamu mencintaiku?”   Aku hanya tertunduk dan menimbun air mata yang sudah berada di ujung kelopak mataku. Suasana menjadi hening dalam sekejap. Akupun mulai menggerakkan bibirku dengan berat hati aku menjawab. 

  “Tidak.” Dengan suara yang agak pelan.   Diaz menghela nafas panjang. Mungkin karena jawaban yang ia harapkan tidak ia dapatkan. Tapi apa daya, aku telah bersama Ryan tak mungkin aku memutuskan hubunganku dengan Ryan dan berpacaran dengan Diaz.   Disela-sela keheningan itu, Diaz berusaha memastikan jawabanku dan mencoba memecahkan keheningan, “ Jika kamu tidak mencintaiku, tatap mataku dan katakan AKU TIDAK MENCINTAIMU”.Aku langsung tersentak dan mencoba berfikir apa yang harus kulakukan. Dengan helaan napas aku mengankat wajahku ke arahnya. Aku mencoba mendalami tatapan matanya. Mencoba memahami perasaannya lewat matanya. Mencoba merubah semuanya yang sudah terjadi. Dan aku putuskan aku mengikuti sarannya. Mataku yang masih berkaca-kaca berusaha menatapnya seraya berkata, “Aku... Aku... Aku.. Aku tidak mencintaimu dan tak akan pernah mencintamu. Puas? Dan sekarang tolong persilahkan aku pergi!”   “Baiklah..” kata Diaz dengan nada yang pasrah dan tak berdaya.

   Aku berbalik dan meninggalkannya. Air mata ini terus mengalir. Diaz maafkan aku. Perlulah kau tahu, aku sangat mencintaimu. Tuhan, mengapa penyesalan ini selalu datang terakhir? jerit hatiku.Suara dentuman keras membuatku kaget. Suara itu berasal tidak jauh dari tempatku berbicara dengan Diaz tadi. Akupun berbalik. Ketika aku melihat siapa korbannya, akupun menjerit sejadi-jadinya.

A-I

SOMEDAY



---Suatu hari nanti, aku akan membuktikan janjiku padamu. I try to promise you.---Henry Lau
Fanfiction ini untuk orang yang selalu hadir dimimpiku. Mungkin terlalu lebay, tapi inilah perasaan yang kupendam untuknya. Thanks for Super Junior specially Henry Lau, our Mochi Oppa. because of you, I can write this fanfic.
So, Happy reading my readers!
Cast: 
Henry Lau
Choi Hye Mi
Park Min Ra
and others
J
“APA? Pindah ke Seoul?! Ani. Aku betah di sini!” bentak seorang namja.
            “Tapi kau harus ikut kami, sayang. Hanya dua tahun saja. Itu tidak lama, kok. Kamu setuju ya?” bujuk eoma namja tersebut.
            “Mama tidak mengerti! Pindah rumah sama aja pindah sekolah dan aku harus mencari teman baru lagi. Itu susah, Ma,”tolak Henry.
            “Mama yakin, kamu bisa mencari dan menemukan teman di Seoul.”
            “Mungkin. Tapi tidak ada yang sebaik Hye Mi! Pokoknya aku tidak ikut. Terserah Mama, mau pindah atau nggak. Yang penting aku tetap pada pendirianku,” ucap Henry kesal sambil masuk ke kamarnya.
            Eoma Henry hanya bisa terdiam dan memikirkan cara untuk membujuk putranya. Ditekanlah nomor seseorang. Terlihat wajah sumringah di wajahnya.

J
Di kamar, Henry sibuk sendiri dengan biolanya. Telinganya disumpal earphone agar saat eoma atau orang memanggilnya, dia tidak mendengar. Di sisi lain (depan pintu kamar Henry) ada seorang yeoja yang dengan kesalnya memanggil-manggil namanya. Nihil. Tidak direspon oleh Henry. *yaiyalah, orang pake earphone.gimana mau denger XD*
“Mochi!!! Buka pintunya!” teriak yeoja itu.
Henry melepas earphonenya, tapi malas untuk membuka pintu. Diapun melanjutkan permainan biolanya.
JEDEEERR!
Pintu kamar Henry terbuka. Henry yang kaget hanya bisa bengong. Tapi itu hanya sebentar. Sebab, begitu tahu Hye Mi yang datang, dia meneruskan permainan biolanya. Hye Mi menggelengkan kepalanya. Dia lalu mencoba merampas biola yang sedang dimainkan Henry.
“Hey! Apa-apakan kau?! Mengambil biola sama dengan mencuri! Kau harus kulaporkan pada polisi!” marah Henry.
“Mochi, dengar! Aku begini karena kamu ngacuhin aku. Sekarang biolanya mau kukembalikan tapi kamu dengerin aku atau ku buang lewat sini?!” tanya Hye Mi.
“Hufftt... Baiklah. Aku mendengarkanmu.”
Henry memilih mengalah daripada biolanya rusak karena ingin dilemparkan Hye Mi lewat jendela kamarnya. Melihat itu, Hye Mi tersenyum dengan senyum kemenangan.
“Oke. Kau mau cerita apa?” tanya Henry.
“Mochi, aku sudah tahu semuanya,” ucap Hye Mi. Menggantung.
“Tahu apa? Makanan dari soya kan? Hehe..” ledek Henry.
                “Aishh. Aku serius.”
                 Henry diam. Hye Mi melanjutkan ceritanya.
                “Kamu mau pindah ke Seoul kan, Oppa?” Pertanyaan Hye Mi seketika membuat kaget Henry.
                “Kau tahu dari mana, Hye Mi~yaa? Berita dari mana itu?” tanya Henry panik.
               “Dari mamamu. Kenapa kamu gak bilang jauh-jauh hari? Setidaknya aku bisa mempersiapkan diri untuk jauh dari kamu,” ujar Hye Mi meledek.

“Yak! Chagi! Gak ada sedih-sedihnya amat sama pacarmu ini. Tapi tenang aja. Aku memutuskan untuk di Paris. Kalau mamaku mau pindah ya terserah. Aku gak akan mau pindah. Aku kan sudah mendengarkan ceritamu. Sekarang, kembalikan biolaku!”
Hye Mi tersenyum hambar. Dia mengembalikan biola Henry dan mencoba memikirkan cara bagaimana agar pacarnya yang manja ini mau ikut mamanya pindah ke Seoul. Hye Mi sendiri sebenarnya takut, kalau Henry pindah berarti dia harus melakukan LDR (Long Distance Relantionship). LDR? Selama ini Hye Mi tidak pernah berpikir untuk melakukan itu. Dia takut sikap manja Henry makin menjadi. Dekat aja udah begini, gimana kalau jauh? Bisa jadi sikap kekanak-kanakkannya malah semakin parah.
Henry menghentikan permainan biolanya. Dia bingung melihat Hye Mi yang diam menundukkan wajahnya. Henry mendekatkan dirinya ke Hye Mi. Dan ketika dia mengangkat wajah Hye Mi, dia kaget karena Hye Mi menangis.
“Chagi, kamu menangis?” tanyanya panik.
“Mataku hanya kelilipan, Mochi. Eh, iya. Aku boleh ngasih saran gak?”
“Apa?”
“Kamu ikut pindah ke Seoul.”
            Henry tidak percaya apa yang baru diucapkan oleh Hye Mi. Dia tertawa. Tapi tawaan Henry dibalas oleh tatapan tajam Hye Mi.
            “Tidak lucu, Mochi!” marahnya.
            “Tidak lucu dari mana? Tadi sudah aku bilang kan? Aku gak mau pindah. Aku tetep di sini, Hye Mi~yaa.”
            “Tapi Oppa. Kamu harus ikut mamamu. Lagian di Seoul kan hanya sebentar. Cuma 2 tahun. Itu kan tidak lama.”
            “Aku mau kau jawab pertanyaanku.”
             Hye Mi mengangguk. “Oke.”
            “Kau tahu kalau aku di Seoul, mamaku menyuruhku untuk apa?” tanyanya.
            “Mamamu menyuruh kamu melanjutkan kuliahmu di sana dan juga perusahaan yang dibangun oleh papamu. Aku gak mau kamu jadi pembangkang orang tua. Makanya aku mohon ke kamu, kamu ikut dia ke sana. Ya, ya ya?” pinta Hye Mi.
            Jadi, Mama gak bilang yang sebenarnya ke Hye Mi kalau aku mau dijodohkan dengan anak temannya, gumam Henry. Aku ke Seoul sama aja akan menyakiti hati Hye Mi. TIDAK AKAN KU BIARKAN ITU TERJADI! APAPUN RESIKONYA.
            “Oppa? Gwenchana? Kok melamun? Hellow! Ada nyawakah di raga pacarku ini?”
            “Eh, Hye Mi. I’m sorry.”
            “What for?” Hye Mi bingung melihat Henry yang tiba-tiba pucat pasi.
            Henry tidak mau menceritakan yang sebenarnya pada Hye Mi. Tegakah dia menyakiti Hye Mi? Tentu tidak, jerit hatinya.
            “Sudah sore. Oppa, aku mau pulang. Pikirkan kata-kataku tadi ya, Mochi~ah. Bye!” pamit Hye Mi.
            “Aku antar kau, Hye Mi. Please wait for a minute.” Dibalas anggukan oleh Hye Mi.
#SKIP
            Tape di mobil Henry tidak berhenti memutar lagu kesukaan Hye Mi. Someday. Lagu boyband favoritenya, Super Junior.
            “Oppa...”
            “Hmm..  Kenapa chagi?”
            “Kalau sudah ada di Seoul dan ketemu member Super Junior terutama Yesung salamkan salamku ya?”
            “Chagi, harus berapa kali kau harus dibilangin, sih? Aku tidak akan pernah mau untuk pindah ke Seoul. Arra?” ucap Henry kesal. Dia memang tidak habis pikir, mengapa Hye Mi sangat antusias menyuruhnya pindah ke Seoul? Entahlah.

J
            “Merci!”
            “’Egalement.”
            “Masuk dulu, Oppa,”tawar gadis itu.
            “Lain kali aja, aku pulang ya.”
            “Ne. Hati-hati Oppa! Dan tolong, pikirkan saranku untuk pindah ke Seoul.”
           Henry mengangguk lemah. Dia kesal, tapi tidak mungkin dia marah.  Sesudah Hye Mi menutup pintu mobilnya, perlahan roda bergerak meninggalkan rumah Hye Mi.

#SKIP
3 bulan kemudian,

Hye Mi berhasil membujuk Henry untuk pindah ke Seoul. Hari ini Hye Mi mengantarkan Henry dan keluarganya ke airport. Mata sembab. Hanya itu yang berhasil Henry berikan pada gadis cantik di depannya. Jauh 180 derajat dengan Henry, Hye Mi justru selalu tersenyum. Berusaha menguatkan dan menghibur Henry.
“Chagi, tunggu aku di sini,ya. I’ll be back!” janji Henry.
“Yak! Mochi, my Oppa! Jangan jadi namja cengeng! Malu tahu diliatin banyak orang tuh.”
Henry mengacak-acak rambut Hye Mi gemas. Hye Mi hanya bisa tertawa melihat pacar, hmm koreksi. Calon mantan pacarnya kesal dengan sindirannya. Biarlah! Biarlah dia tertawa sebelum air mata di matanya jatuh. Ya menangis! Menangis adalah ritual utama Hye Mi saat Henry sudah pergi. Meninggalkan dirinya tanpa pernah berharap kembali.
“Oppa..” kata Hye Mi sambil memberikan sesuatu.
Henry menerimanya dengan hati was-was. “Apa ini?”
“Buka setelah sampai di Seoul.”
“Oke. Maaf chagi, aku harus pergi... Kalau saja ini bukan permintaanmu, aku tidak...”
“Cukup! Nanti kamu tertinggal pesawat! Kajja masuk!”perintah Hye Mi.
Henry mengangguk. Kalau Hye Mi tidak berada di tempat umum, tentu dia sudah tertawa lepas karena anggukan Henry persis seperti waktu mereka kecil dulu.
“I love you,” ucap Henry sambil mencium kening Hye Mi.
“Love you too my Mochi.”
Bayangan Henry perlahan hilang dari hadapannya. Di tersenyum merasakan air membasahi pipinya. Akhirnya aku bisa bebas menangis. Henry Lau, my chingu. I still become the best friend for you.
Setelah puas menangis, Hye Mi pulang dengan mata merah.
J
Sesampainya di Seoul, Henry mempercepat langkahnya ke hotel. Berpisah dengan orangtuanya yang harus menyelesaikan urusan pribadi mereka. Ah, paling mereka mau bertemu client mereka di restaurant, pikir Henry.
Tak perlu waktu lama, dia sudah berada di depan kamar hotelnya. Belum sempat mengganti pakaiannya, tangan dan matanya kini mencari surat yang diberikan Hye Mi tadi di bandara. Where are you, Hye Mi’s letter? Henry hampir saja lupa. Surat dari Hye Mi ada di tas yang dibawa eomanya. Aduh, mengapa jadi lupa begini ya? Pikir Henry.
“Mah, di tas kecil yang Mama bawa ada surat dari Hye Mi, gak? Mama di mana sih? Aku ke sana ya, ngambil suratku!”
Eoma pun memberitahukan Henry di mana dia sekarang.
Henry sebenarnya malas pergi ke sana. Tapi demi surat Hye Mi, dia rela keluar dari kamarnya yang hangat ini ke tempat yang di mana orangtuanya berada.
“Henry!” teriak appanya.
Ok. Henry, dengar! Kalau Papa Mamamu mengajakmu makan, bilang saja sudah kenyang. Ambil surat itu dan bergegaslah kembali ke hotel. Begitu hati kecilnya bicara.
“Mana suratnya, Ma?” tanya Henry.
Eoma Henry langsung menyerahkan surat itu ke Henry. Henry menerimanya dengan mata berbinar. Diapun bergegas pamit ke hotel.
Tapi belum sempat dia mengeluarkan kata, appanya melarang untuk pergi sebelum dia makan sesuatu dari restaurant ini.
“Aku sudah makan, Pa!”
“Pokoknya kamu harus makan dulu di sini. Sebentar lagi Min Ra datang membawa makanan yang di pesan,” jelas appanya.
Henry pasrah. Tiba-tiba dia ingat appanya menyebut nama seorang yeoja. Jangan-jangan dia orangnya,gumam Henry.
“Permisi!! Pesanan datang!” kata seorang perempuan.
Henry mengangkat kepalanya. Matanya beradu pandang dengan gadis yang membawa makanan yang dipesan appanya. Gadis itu tersenyum sekilas pada Henry.
“Henry. Kenalin, ini Min Ra,” kata eomanya.
“Henry.”
“Min Ra, imnida.”
Perkenalan singkat, tapi cukup membuat kesal hati Henry. Gadis dihadapannya ini memang tidak kalah cantiknya dengan Hye Mi. Tapi dia merasa orangtuanya tidak adil jika harus menjodohkannya dengan anak teman mereka. Henry tahu dia salah. Karena selama 5 tahun menjalin kasih dengan Hye Mi, dia tidak memberitahu appa dan eomanya. Dia hanya takut hubungannya ditentang oleh orangtuanya, karena mereka mengenal Hye Mi sebagai kawan sepermainannya sedari kecil.
            Ada rasa bersalah di hati Henry. Kalau saja dari dulu dia tidak menyembunyikan hubungannya dengan Hye Mi kepada orangtuanya, pasti dia tidak harus menerima perjodohan ini. Henry melihat orangtuanya akrab sekali dengan gadis itu. Hatinya gerah. Matanya mensiratkan ketidaksukaannya dengan Min Ra.
Selama di restaurant itu, Henry sama sekali tidak menyentuh makanannya. Dia memilih meminum coklat panas yang dia pesan. Minuman yang menjadi fovoritnya dan Hye Mi di Paris saat musim dingin tiba. Sambil menyeruput pelan coklat panasnya, dia membaca surat dari Hye Mi. Perlahan, matanya mengikuti kata demi kata yang ditulis Hye Mi.

Dear My Mochi Oppa,
Aku tahu, kamu pindah bukan karena harus ikut dengan orangtuamu untuk kuliah di sana dan meneruskan perusahaan Papamu, Henry~ah. Kamu harus bertunangan juga dengan anak teman Mamamu juga kan? Saat mendengarnya dari Mamamu kemarin secara langsung, hatiku sakit Oppa. Mungkin kalau saja dari awal kita tidak menyembunyikan hubungan kita di depan orangtuamu, Mamamu tidak akan memaksamu pindah. Ya kan? Tapi apa daya, sudah terlambat. Mereka hanya menganggap kita berteman akrab sejak kecil. Tidak lebih dari itu.
Kini ku harap kamu mau menuruti perintah orangtuamu. Maaf, aku tidak bisa mencegahmu pergi. Tapi jangan artikan aku tidak mencintaimu. At least I stiil love you, my Mochi. Always! Ever and forever. And I hope you can find a happiness with Min Ra.
Satu lagi. Hilangkan sikap kekanak-kanakkanmu pada siapapun terutama Min Ra. Oh ya, hubungi aku ketika sudah sampai di Seoul. Tapi tidak dengan suara marah padaku seperti terakhir kamu mengantarkan aku pulang. Promise?
Your friend as your first love

Choi Hye Mi

Saat membaca surat itu, matanya panas. Hatinya tidak karuan. Dia ingin marah. Entah dengan Hye Mi, kedua orangtuanya atau Min Ra. Kalau aja dia tidak ada, perjodohan inipun juga tidak ada kan?
        Henry mengambil ponsel dan mengetik nomor yang sudah dia hapal mati. Setelah ditekannya nomor tersebut, dia meninggalkan kursinya.
            “Mau ke mana?” tanya eomanya.
            Tidak dijawab Henry karena dia marah dengan eomanya.
            “Henry-ssi!” panggil eoma.
            “Biarkanlah dia sendiri. Pasti dia mau menelepon Hye Mi.”ujar appa.
J
            “Yeoboseo?”
            Hening...
            “Henry~ah. Kamu sudah sampai Seoul? Selama di sana apakah kamu bertemu member Super Junior? Apa...”
            “Apa maksud isi suratmu?” potong Henry.
            Kini giliran Hye Mi yang diam.
            “Jawab Hye Mi~yaa!”
            “A..aku.. aku...”
           “Kau ingin melepasku begitu saja dengan membiarkan aku menikah dengan perempuan lain yang tidak kucintai? Sebenarnya apa sih yang ada dipikiranmu sekarang? Aku tahu aku salah karena aku tidak jujur ke Mama dan Papa tentang hubungan kita. Tapi caramu seperti ini tidak akan membuat permasalahan selesai!”
            Air mata Hye Mi mengalir deras. Ditahannya tangisnya, dikuat-kuatkannya suaranya yang bergetar melawan tangis. Dia tidak seperti yang dipikirkan Henry. Dia hanya ingin Henry tidak menolak keinginan orangtuanya. Terlebih Hye Mi tahu, kalaupun dia menikah dengan Henry, dia hanya akan membuat Henry bersedih karena vonis dokter akan penyakitnya. Hye Mi menderita kanker hati. Dan selama ini, dia tidak memberitahu Henry tentang penyakitnya.
            “Oppa...”
            “Apa alasanmu?! Aku mau mendengarnya!” bentak Henry.
           “Oppa! Please! Aku akan menceritakan alasanku mengapa aku begitu. Tapi kalau kamu membentakku seperti ini, tidakkah kamu pikir aku sakit mendengar bentakkanmu itu, hah! Lebih baik, kita tidak usah lagi saling kenal!”
Tut...
Sambungan di putus sepihak. Henry terpana, dia menyesal telah kasar dengan Hye Mi. Gara-gara hatinya yang lagi bad mood, dia harus membentak Hye Mi. Perasaan bersalah muncul. Pasti Hye Mi telah marah dan tidak mau memaafkan kesalahannya.
            Sementara di sebrang sana. Gadis yang dikenal dengan senyum dan pribadi mandiri serta selalu ceria, kini berbanding terbalik. Tidak ada lagi senyum di wajah cantiknya. Tidak ada lagi sikap dewasa yang tegar di raganya. Hatinya sakit saat menerima telepon dari Henry. Dia tidak habis pikir Henry akan setega itu membentaknya. Kini boneka memberian Henry diulang tahunnya yang ke-17 basah oleh air mata Hye Mi karena menangis.
          “Aku melakukan ini karena aku mencintaimu Mochi. Sungguh, tidak ada laki-laki lain yang terspesial di hatiku. Hanya kamu my lovely, cinta pertama dan terakhir untukku. Aku harap, suatu hari nanti kamu bisa mengerti keputusanku. Oh, kepalaku! Tuhan! Sakit... sakit! Aku mohon jangan sekarang sebelum sampai Henry merubah sikap kekanak-kanakannya. Please! Just waiting for two years my Lord! Please! Aaa! Oppa! Jebal!” sambil menangis melawan sakitnya dia berteriak-teriak meninta tolong. Lalu pandangan gadis itu gelap.

J
Semenjak menelepon Hye Mi lima bulan lalu, Henry kehilangan kontak dengan gadis itu. Menghubungi Hye Mi balik sudah dia lakukan setiap hari namun yang didapat adalah suara operator.
Hye Mi~yaa maafkan aku. Aku janji aku tidak akan membentakmu lagi. Aku juga akan merubah sikapku untukmu. Asal kamu juga janji untuk tidak membenciku. Chagi, aku rindu denganmu. Aku rindu dengan senyuman khasmu. Tapi mengapa semenjak kejadian itu, aku tidak bisa menghubungimu lagi? Kau kemana Chagi? Mengapa seakan kau menghilang begitu saja? Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi? Hye Mi, saranghae!lamun Henry.
“Henry-ssi!” ucap seseorang.
Henry menoleh ke sumber suara. Suara Min Ra. Dengan mendengus kesal dia menghampiri yeoja itu.
            “Ada perlu apa? Aku tak punya banyak waktu!” tanya Henry acuh.
            “Hmm, aku disuruh ahjuma mengantarkan ini.”
            “Apa ini?” tanyanya.
            “Surat dari seseorang di Paris. Tapi aku tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Dia hanya menuliskan Miss H,”kata gadis itu panjang lebar.
            “Gomawo.”
            “Ne,” ujarnya singkat sambil memperhatikan intens Henry.
            Pikiran Min Ra membayangkan betapa gantengnya wajah si chubby ini. Dia terus melihat Henry. Sementara Henry sediri? Tangannya membuka surat itu perlahan namun pasti. Dia tidak sabar membaca tulisan Hye Mi. Walaupun dia tidak melihat Hye Mi langsung, tapi setidaknya rasa rindu Henry terobati. Baginya, membaca surat dari Hye Mi sama aja bertemu dengan Hye Mi.
            Baru membaca sekilas, Henry merasa seseorang memperhatikannya dengan lekat. Saat menoleh, matanya langsung menangkap objek yang sangat tidak disukainya. Min Ra. Ngapain dia masih di sini? Gadis itu tersenyum pada Henry. Persis seperti Hye Mi. Untuk sesaat, dia terpesona oleh senyuman Min Ra. Tapi bayang-bayang Hye Mi membuatnya sadar. Gadis dihadapannya ini bukanlah pacarnya. Mata Min Ra masih intens menatap Henry. Dilihat seperti itu, membuat Henry gerah. Marahlah dia dengan gadis cantik itu.
            “Apa urusanmu denganku belum selesai?” tanya Henry dan membuat Min Ra kaget.
            “Hmm... Ani. Urusanku sudah selesai kok.”
            “Lalu mengapa kau jadi patung di situ?!”
            Min Ra kikuk. Dia tahu, dari awal sebenarnya Henry tidak suka bertemu dengannya. Dia ingin meminta maaf karena telah menganggu Henry. Namun belum sempat dia mengeluarkan kata-kata dengan keras Henry membentaknya keluar.
            “Jika kau tidak keberatan, silakan keluar!”
            Min Ra diam. Rasanya dia ingin menangis, tapi masih dikuatkannya hatinya untuk tersenyum.
            “Apa kau tuli? Kubilang keluar dari kamarku!”
            “Hmm, hmm”
            “KELUAR!”
            BRAKK!
            Pintu kamar Henry ditutup dengan keras otomatis Min Ra tidak bisa membendung air mata yang sedari tadi ditahannya.
            “Sebenci itukah kau padaku Henry-ssi? Hiks...!”
           Min Ra kemudian pamit pulang pada eomanya Henry. Perempuan separuh baya itu heran karena mata Min Ra yang merah. ketika ditanya mengapa, gadis itu hanya bisa menjawab, “Aku tidak apa-apa ahjuma. Mataku hanya gatal.”

J
          Masih terlihat jelas senyum gadis itu yang tidak pernah luntur walaupun keadaannya jauh lebih buruk dari pada kemarin. Hampir setahun sudah, Hye Mi dirawat di rumah sakit. Sungguh! Dia tidak betah di tempat ini. Tapi  demi mengurangi rasa sakit dan menghindari Henry yang katanya selalu menelepon serta menemuinya beberapa hari lalu di rumahnya, dia rela menghabiskan waktunya di tempat yang dia benci.
Surat yang ditulisnya lima bulan lalu untuk Henry sudah dia dapatkan balasannya beberapa jam setelah suratnya dinyatakan sampai ke Seoul. Hye Mi yang membaca surat permintaan maaf Henry merasa kalau perlahan sikapnya berubah. Dia senang membaca setiap kalimat yang ditulis Henry dengan sedikit perubahan. Hye Mi pun ingin sekali membalas surat itu. Sayangnya, dia tidak mungkin menulis surat jika setiap detik darah segar mengalir dari hidungnya.
            “Appa, kapan aku bisa pulang? Aku tidak betah di sini?” tanya Hye Mi pada appanya.
            “Sebentar lagi, kamu boleh pulang, sayang. Bersabarlah. Nanti Appa izin dulu sama dokternya ya,”jelas appa Hye Mi sambil mengelus rambut Hye Mi.
            Wajah pucatnya beusaha Hye Mi sembunyikan. Dia tidak ingin melihat ayahnya sedih karena penyakitnya.
            “Hye Mi, apa kamu tidak memberitahu Henry? Dari awal kamu masuk rumah sakit, sepertinya dia tidak datang menjengukmu. Lalu ketika dia ke rumah ingin bertemu kamu, kamu juga membujuk Appa agar Henry tidak tahu keadaanmu yang sebenarnya. Apakah Henry sudah tidak peduli lagi sama kamu, sahabat kecilnya?” tanya appa lembut.
            Hye Mi diam. Lalu menangis. Sang ayah yang melihat itu sungguh tidak tega. Dipeluklah tubuh putri semata wayangnya. Hye Mi merasakan hangatnya dekapan sang ayah. Diapun sedikit tenang.
            “Maafkan Appa. Appa tidak bermaksud membuatmu menangis.”
            “Tidak Appa. Appa tidak salah. Aku memang sengaja tidak membuat Henry tahu tentang penyakitku. Aku juga mau Henry tidak lagi menganggapku pacarnya tapi hanya sebagai temannya. Aku hanya mau Henry bahagia dan tidak menangis melihat keadaanku sekarang. Aku... aku ingin dia bahagia dengan wanita lain pilihan orangtuanya. Aku melakukan itu karena aku mencintainya. Appa, berjanjilah padaku untuk tetap merahasiakan penyakitku dari Henry.”
            Hye Mi senang melihat ayahnya mengangguk, tanda setuju. Perlahan ayahnya melepaskan pelukkannya. Membiarkan putri kecilnya beristirahat. Dengan perlahan, dia baringkan tubuh Hye Mi di tempat tidurnya.
            “Appa, terima kasih,” ucap Hye Mi.
            “Untuk apa?”
            “Untuk semua yang Appa lakukan padaku.”
            “Sama-sama, sayang. Sekarang Hye Mi tidur ya! Appa akan menjagamu di sini,” kata appa sambil menyelimuti tubuh Hye Mi.
            Hye Mi mengangguk. Mungkin karena lelah setelah menangis tadi, dia cepat terbuai dalam mimpi. Ayahnya hanya bisa menangis di lorong rumah sakit. Dia hanya pasrah dengan keadaan Hye Mi sekarang dan berharap bisa sembuh dari penyakitnya.

J
         Lima hari lagi, Henry akan menikah dengan Min Ra. Semua undangan sudah disebar, termasuk ke Hye Mi di Paris. Hye Mi yang membaca undangan itu hanya bisa tersenyum menahan sakit. Entah karena sakit di kepalanya atau sakit karena laki-laki yang sangat mencintainya sebentar lagi akan menikah dengan orang lain.
            Hye Mi mengambil ponselnya yang sudah lama dia nonaktifkan. Begitu diaktifkan, banyak sekali misscall dari Henry. Selain misscall, ratusan pesan masuk juga dari Henry. Hye Mi memang mematikan ponselnya semenjak Henry menghubunginya setahun lalu. Dia tidak ingin dihubungi oleh Henry selama sikapnya tidak berubah. Lagipula jika dia tetap menyalakan ponselnya, Henry pasti akan segera tahu kalau dia sedang dirawat di rumah sakit. Dia tidak mau semua itu terjadi.
            Hye Mi mencoba mengirim pesan singkat ke Henry.
                To: Henry Lau (Mochi)
                Undanganmu sudah aku terima Oppa. Maaf karena tugasku yang menumpuk aku baru bisa membalas smsmu. Ingat Henry-ssi, kamu harus mengubah sikap manja dan keras kepalamu itu. Oh ya. Sepertinya lima hari lagi aku tidak datang. Perubahan iklim di sini membuatku flu. Dan aku tidak mau fluku semakin parah jika harus berpergian. Ku harap kamu mengerti. Maafkan aku my Friend. Trust me, you can find happiness with Min Ra. You can loving her. You can live without me.
Love:Choi Hye Mi as your friend.
            SENT!
            Hye Mi meletakkan ponselnya. Berharap Henry tidak membalasnya.
            Sementara di Seoul, Henry yang menerima sms itu dari Hye Mi. Dia kaget karena lama tidak ada kabar, sekarang dia mendapatkan kabar dari pacarnya, Hye Mi. Tidak mau membuang waktu, dia segera menelepon Hye Mi.
            “Hye Mi~yaa!” saat telepon diangkat dari sebrang.
            “Hi, Mochi Oppa,” jawab Hye Mi lemah.
            “Mengapa lama tidak ada kabar? Kau masih marah padaku?” tanya Henry.
            “Aku sudah memaafkanmu, asal sekarang kamu menelepon dengan tidak lagi membentakku. Maaf Mochi, aku tidak bisa datang ke Seoul. Aku flu di sini. Aku takut fluku makin parah ketika aku berpergian jauh. Jeongmal mianhae!” ujar Hye Mi bohong. Gadis itu mengusap hidungnya dan dia kaget saat darah mengalir layaknya air keran.
            Henry menangis. “Kalau kau gak bisa ke Seoul, biar aku yang menikah di Paris. Asal kau datang diacara itu.”
            “Jangan, Mochi. Pasti persiapan di Seoul lebih matang daripada di Paris. Sebentar ya, aku mau ke kamar mandi. Tutup saja dulu. Nanti aku yang akan meneleponmu,” ujar Hye Mi sambil memegang kepalanya.
            “Tidak usah. Kau bawa saja handponemu ke kamar mandi. Aku menunggu sampai kau selesai, chagi.”
            “Mochi kau lupa! Sekarang hubungan kita sudah berakhir. Dan jangan panggil aku chagi lagi. Aaa!!! Appa... Jebal!”teriak Hye Mi sambil berusaha menjauhkan ponselnya dari mulut.
            Henry sempat mendengar teriakkan Hye Mi. Oh Tuhan, apa yang terjadi dengan Hye Mi? Dia cemas, tapi tak tahu harus berbuat apa. Dipanggilnya Hye Mi, tapi tidak ada jawaban selain sayup-sayup teriakkan seorang gadis.
            “Hye Mi! Hye Mi! Kau kenapa? Jawab Hye Mi!”
            -Appa jebal!!! Kepalaku pusing!
            *Hye Mi! Kamu kenapa?!
            -Kepalaku pusing, Appa. Pusing!!! Aaa!!
            *Hye Mi! Bangun sayang! Bertahanlah, Appa panggilkan kamu dokter.
            Ya, hanya suara itu yang sempat ditangkap oleh telinga Henry. Ada apa ini sebenarnya. Dia memutuskan sambungan dan berlari menemui appa, eomanya.

J
“Pa, Ma. Aku mau pulang ke Paris!” ucap Henry memotong pembicaraan appa eomanya.
            “Apa maksudmu?” tanya eomanya bingung.
            “Aku mau ke Paris sekarang!”  tegas Henry.
            “Sebentar lagi kau menikah, Henry. Untuk apa ke Paris?”
            “Aku hanya ingin tahu keadaan pacarku di Paris.”
            “Siapa pacarmu? Apa dia yang menyuruhmu ke sana?” marah appa Henry.
            “Hye Mi, Pa, Ma! Hye Mi pacarku. Kami sudah lama berpacaran. Dan sejak setahun lalu aku menghubunginya di restaurant dia tidak ada kabar lagi. Tadi dia sempat menghubungiku lewat pesan dan aku balik meneleponnya. Tapi di tengah-tengah kami ngobrol, ada suara jeritan Hye Mi dan samar-samar suara minta tolong. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengannya. Aku mau menyusulnya sekarang!”
            Orangtua Henry diam. Mereka tidak habis pikir, Hye Mi yang mereka anggap hanya sebagai teman biasanya Henry ternyata adalah seseorang yang spesial di hati anak mereka. Perasaan bersalah timbul. Namun tidak dapat membatalkan untuk menikahkan Henry dan Min Ra.
            “Aku harap kalian mengerti. Dia adalah cinta pertamaku, Pa, Ma. Jadi tolong, biarkan aku pergi menemuinya di Paris,” mohon Henry.
            Henry pasti berpikir, dia akan kena omel orangtuanya. Tapi dia hanya bisa pasrah jika itu terjadi. Tanpa diduga, eomanya menghampirinya dan berkata, “Mama ikut kamu ke Paris. Kita berangkat sekarang.”
            Henry tak percaya. “Mama serius?” tanyanya. Mamanya mengangguk tanda setuju.
            “Pa, izinkan aku pergi. Aku mohon,” pamit Henry.
            Papanya menatap lekat Henry. Kemudian mengangguk.
            “Pergilah. Kejar cintamu, Henry.”
            “Terima kasih, Pa.”

 Setelah bersiap-siap, mereka bertiga menuju Incheon Airport untuk take off ke Paris. Tiba-tiba seorang gadis mencegat mobil mereka.
            “STOP!”
            Ternyata Min Ra.
            “Mau apa lagi dia?” gumam Henry.
            Henry turun dari mobil dan menyuruh Min Ra pulang. Tapi Min Ra tidak mau.
            “Apa maumu, Min Ra?” tanya Henry marah.
            “Aku ikut denganmu ke Paris.”
            “Untuk apa?”
            “Pokoknya aku mau ikut! Izinkan aku pergi ke Paris bersamamu.”
            “Baiklah, naik!”
            Gadis itu senang karena keinginannya bisa dituruti Henry.
#SKIP
At hospital...
            “Maaf, kamar pasien yang bernama Choi Hye Mi di mana ya?” tanya Henry.
            “Di kamar 8 A lantai tiga.”
            “Ok. Merci.”
            “ ’Egalement.”
            Henry, Min Ra dan orangtuanya segera naik ke lantai 3 dan mencari kamar Hye Mi.

J
            Tok... Tok... Tok!
            Pintu kamarpun dibuka. Munculah ayah Hye Mi dengan mata sembab karena menangis sejak 5 lima jam yang lalu.
            “Ahjusshi, gimana keadaan Hye Mi?” tanya Henry.
            Ayah Hye Mi memeluk Henry.
            “Ahjusshi!”
            Ayah Hye Mi melepaskan pelukannya dan menarik Henry masuk ke kamar pasien. Betapa terkejutnya Henry melihat keadaan Hye Mi sekarang. Gadis itu bukanlah gadis yang dia kenal. Gadis itu bukanlah Hye Mi yang terakhir kali dilihatnya setahun lalu. Henry hampir tidak percaya kalau gadis yang terbaring lemah dan kini dihadapannya adalah Hye Mi, pacarnya.
            Mata Hye Mi belum mau terbuka tapi sesungguhnya dia tidak tidur. Dia bisa merasakan kedatangan Henry. Tubuhnya bergetar hebat karena masih merasakan sakit. Perlahan Hye Mi membuka matanya. Dan itu membuat Henry sedikit senang.
            “Hye Mi~ah! Aku di sini, sayang. Aku di sini!” panggil Henry sambil memegang tangan Hye Mi.
            “Oppa.. My Mochi, Oppa?”panggil Hye Mi.
            “Ne, chagi. aku di sini!”
            Air mata Hye Mi mengalir. Dia senang bisa bertemu Henry. Matanya memandang ke sekelilingnya dan terhenti karena tertuju pada seorang perempuan lain. Perempuan itu mungkin juga seusianya dan dia yakin bahwa perempuan itu adalah sepupunya yang tinggal di Seoul, Park Min Ra.
            “Min Ra-ssi?”
            Henry dan orangtuanya terkejut saat mendengar Hye Mi memanggil Min Ra. Darimana mereka kenal, pikir mereka.
            “Min Ra-ssi, kemarilah!” perintah Hye Mi.
            Min Ra menghapus air matanya. Dia lalu memeluk Hye Mi. Melihat itu semua, Henry hanya menatap kedua gadis itu aneh. Tidak mengerti.
            Min Ra adalah anak pamannya dari pihak ibu. Mereka bermarga Park. Mendiang ibu Hye Mi mengganti marganya saat menikah dengan ayahnya Hye Mi yang bermarga Choi. Mereka terpisah sejak kecil karena Hye Mi dan ibunya harus ikut dengan  ayahnya yang dipindahtugaskan ke Paris.
            Hye Mi lalu menjelaskan semua itu ke Henry dan keluarganya. Ayah Hye Mi sebenarnya tahu kalau gadis itu Min Ra. Hanya karena waktu mereka berpisah, Min Ra masih kecil. Jadi dia tidak terlalu ingat betul dengan keponakkannya.

Sewaktu mamanya Henry menceritakan Min Ra kepada Hye Mi, dia jadi ingat sepupunya yang berada di Seoul. Maka dari itu, dia sangat antusias jika Henry menikah dengan sepupunya yang tidak sedang melawan sakit seperti dirinya. Dia berpikir, jika Henry bersama Min Ra, Henry akan menemukan kebahagiaan dengan sepupunya itu yang tentu tidak mungkin diberikan olehnya.
            “Maafkan aku Hye Mi. Dari awal, aku tidak tahu kalau Henry itu pacarmu,”ucap Min Ra lirih.
            “Kamu tidak salah Min Ra-ssi,” balas Hye Mi tersenyum.
            Setelah puas melepas kangen dengan sepupunya, Min Ra beranjak keluar.
            “Mau kemana?”
            “Aku ke toilet dulu Hye Mi. Nanti aku pasti ke sini,” ujar Min Ra.
            Min Ra lalu mengajak pamannya, ayah Hye Mi, untuk membicarakan sesuatu. Sementara di kamar Hye Mi, Henry dan orangtuanya berusaha menghibur Hye Mi agar lupa dari penyakitnya

J
“Sebenarnya Hye Mi sakit apa ahjusshi?” tanyaMin Ra begitu mereka berada di luar rumah sakit.
            “Seperti ibunya, kanker darah. Dan menurut dokter hidupnya sudah tidak lama lagi.”
            Mendengar penuturan pamannya, Min Ra hanya bisa menangis. Dia lalu berniat untuk menemui dokter yang selama ini merawat Hye Mi.
#SKIP
            “Jadi tidak ada cara untuk bisa menyembuhkannya, dok?”
            “Maaf, sekali lagi saya tegaskan, hanya dengan cangkok sumsum tulang belakanglah yang bisa menyembuhkannya. Jikalau adapun, itupun sangat berbahaya untuk Hye Mi,”jelas dokter Kim.
            Dengan langkah gontai, Min Ra keluar dari ruangan dokter itu. Maafkan aku Hye Mi. Aku tidak bisa membantumu.,gumam hatinya.
            Min Ra kembali ke ruangan Hye Mi. Dilihatnya wajah sepupunya dengan mata sembab. Hye Mi tertidur pulas setelah perawat menyuruhnya minum obat. Min Ra yakin, obat itu untuk meredakan sakit bukan untuk menyembuhkan penyakitnya. Kini diruangan itu hanya ada dirinya, Hye Mi dan Henry. Pamannya dan orangtua Henry sekarang berada di hotel yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit ini.
            Setelah memastikan Hye Mi benar-benar terlelap, Henry memutuskan untuk pindah ke sofa. Dia menghampiri Min Ra yang masih terisak di pojok ruangan itu.
            “Kau tidak ikut ke hotel, Min Ra?” tanya Henry.
            “Ani. Aku di sini saja untuk menjaga sepupuku. Jika kau ingin ke hotel, silakan. Biarlah aku yang menjaganya. Lagipula, kau terihat lelah Henry-ssi.”
            Henry menggeleng. “Aku juga akan menjaganya,” lanjutnya.
            Hening seketika...
            “Jadi, ini alasanmu ikut aku ke Paris Min Ra?”
            “Iya. Aku sempat ditelepon ahjuma. Katanya, kalian sekeluarga ingin menjengguk seseorang yang bernama Hye Mi. Begitu mendengar namanya, aku merasa tidak asing dengan nama itu. Lalu aku bertanya pada ayahku, apakah aku kenal dengan seseorang yang bernama Hye Mi. Dan ayahku menjelaskan kalau aku punya sepupu yang bernama Hye Mi dan dia tinggal di Paris. Maka dari itu, aku menyusulmu dan ingin memastikan kalau yang ingin kau jenguk adalah sepupuku. Ternyata setelah lama berpisah, kami akhirnya bertemu,”jelas Min Ra panjang lebar.
            Henry mengangguk mengerti.
            “Kau mau kemana Min Ra?” tanya Henry saat melihat Min Ra berdiri.
            “Aku akan duduk disebelah ranjangnya Hye Mi. Kau tidur saja di sofa,”kata Min Ra.
            “Kalau begitu aku juga.”

Merekapun menjaga Hye Mi bergantian. Setiap satu jam sekali mereka bergantian untuk tidur dan menjaga Hye Mi. Namun itu tidak lama. Karena ketika sudah ketiga kali terjaga, kali keempat, Min Ra menyerah dan tertidur.
J
            Hye Mi terbangun karena mimpinya semalam sangat indah. Dia lalu tersadar karena dilihatnya sepupunya tertidur di sebelah kanannya. Ingin Hye Mi membangunkannya tapi dia tak tega. Dia lalu menoleh ke kiri, wajah Henry yang tertidur masih sama seperti dulu. Pipi chubbynya, yang sering menjadi bahan cubitan gemas tangannya. Disentuhnya wajah Henry dengan perlahan, takut membangunkannya. Tapi gagal. Henry keburu bangun saat tangan Hye Mi belum selesai mengelusnya.
“Maaf. Aku membangunkanmu.”
            “Tidak masalah. Kau sudah bangun Hye Mi?”tanya Henry.
            “Ne,”jawab Hye Mi singkat.
            Tidak lama kemudian Min Ra pun terbangun. Hye Mi tersenyum padanya. Min Ra senang melihat sepupunya yang sudah bisa tersenyum lagi. 
“Aku mengganggumu ya?” tanya Hye Mi.  
“Tidak Hye Mi. Aku memang sudah seharusnya bangun, kan?”balasnya.
“Apa kalian lapar?” tanya Henry pada Hye Mi dan Min Ra.
Mereka mengangguk.
“Tunggulah sebentar aku akan membawakan kalian makanan,” ucap Henry sambil berlalu.
Selama Henry pergi, Hye Mi berbincang dengan Min Ra. Sampai akhirnya Hye Mi berkata,”Min Ra, apakah kamu mencintai Henry?" 
Pertanyaan Hye Mi membuat Min Ra sedikit terkejut. Dia memang mulai menyukai Henry. Tapi dia tidak mau merebutnya dari Hye Mi.
“Tidak. Begitupun dia padaku. Kami tidak saling mencintai,”jawab Min Ra bohong.
“Tapi kamu akan menikah besok dengan Henry, Min Ra.” 
“Pernikahan itu akan kami batalkan. Dan kami akan merawatmu sampai kau sembuh dan setelah itu kau bisa menikah dengan Henry,” jelas Min Ra tegas. Walau sebenarnya hatinya sakit. 
Terlihat wajah sedih di wajah Hye Mi. Min Ra sadar hal itu. Karena mereka tahu, penyakit Hye Mi sama sekali tidak bisa disembuhkan.
Obrolan mereka berhenti saat Henry kembali sambil membawa tiga makanan.
“Aku suapi, ya?”tawar Henry.
Hye Mi mengangguk. Perlahan Henry menyuapi Hye Mi. Kemesraan mereka dapat mengembalikan senyum Hye Mi yang hampir saja punah. Henry senang gadisnya dapat tersenyum lagi. Tapi tidak untuk Min Ra. Ada sedikit hatinya tidak rela melihat mereka. Cemburukah? Entahlah. Yang jelas selama setahun mengenal Henry, belum pernah dia melihat Henry sebahagia itu. Mata dan hatinya panas. Min Ra mempercepat makannya dan segera pamit keluar.
J
            Berhari-hari Henry dan Min Ra selalu berada di sisi Hye Mi. Hal itulah yang membuatnya lebih segar daripada biasanya. Hye Mi malah lupa akan penyakitnya. Rutinitas sehari-hari mereka setelah makan pagi adalah membawa Hye Mi ke taman untuk menikmati udara segar. Min Ra dan Henry juga sudah membatalkan pernikahan mereka. Semua itu demi kebaikkan Hye Mi semata.
           Hari ini, ketika selesai makan dan ingin ke taman, tiba-tiba Hye Mi merasakan pusing yang teramat sangat. Hidungnya mengeluarkan darah dan dia meronta kesakitan. Min Ra yang melihat itu panik dan segera memanggil dokter. Sementara Henry? Dia berusaha menenangkan gadis itu dengan cara membaringkan Hye Mi di tempat tidur. Tapi Hye Mi terus meronta-ronta menahan sakit sambil menangis. Tangisnya reda saat dirinya kehilangan keseimbangan dan jatuh pingsan. Beruntung, tubuhnya sempat ditangkap Henry.
          Henry kembali membaringkan tubuh gadis mungilnya ke tempat tidur. Hatinya tidak karuan. Dia lalu menciumi kening Hye Mi lama seraya mengatakan, Kamu harus kuat chagi. Tak lama kemudian, dokter datang dan menyuruhnya keluar. Dengan setengah hati dia melangkahkan kakinya keluar. Dia lalu menghubungi ayahnya Hye Mi dan menenangkan Min Ra yang sedari tadi menangis.
           Dokter yang memeriksa Hye Mi keluar setengah jam kemudian. Dia lalu bertanya,“Apa di sini ada ayahnya Hye Mi, Henry dan Min Ra?”
            Ketiga orang yang dipanggil dokter segera mengampiri dokter.
            “Saya Henry dan mereka adalah ayah Hye Mi dan Min Ra,” jelas Henry.
       Dokter menyuruh ketiganya masuk. Mereka langsung masuk dan menemui Hye Mi. Gadis itu tersenyum saat orang-orang yang dicintainya menghampiri dirinya. Ayahnya langsung memeluknya.
            “Appa... Maafkan atas semua salahku. Terima kasih karena sudah merawat dan menyayangi Hye Mi. Maafkan aku, Appa. Aku mencintaimu.”
          Ayahnya hanya bisa terisak mendengar perkataan Hye Mi. Perlahan Hye Mi melepaskan pelukan ayahnya. Kini dia menatap Henry dan Min Ra bergantian. Senyum gadis itu tidak berubah.
            “Henry Oppa!...”
            Henry menahan air matanya. Dia memeluk Hye Mi erat.
           “Maukah kamu menepati janji untukku?” tanya Hye Mi.
           “Demi kau, Hye Mi~yaa. Aku akan menepati janjiku. Suatu hari nanti, aku akan membuktikan janjiku padamu, yaitu merubah sikap kekanak-kanakkanku.”
            “Termasuk janjimu untuk menikahi Min Ra?” tanya Hye Mi.
            Henry melepas pelukannya. Matanya tersirat keraguan.
            “Tidak. Aku akan menikah denganmu, chagi. Aku..”
            “Apa kamu mencintaiku?” tanya Hye Mi serius sambil memotong perkataan Henry.
            “I love you soo much, Hye Mi. Forever!” jawab Henry.
            “Oppa, If you love me, please marry her! I know you can find happiness without me. But, the love from her. Berjanjilah!”
            Min Ra yang mendengarnya menangis haru. Dia tak sanggup jika harus berpisah lagi dengan sepupunya.
            “Min Ra-yaa!”
            Min Ra pun menghampiri Hye Mi dan memeluknya erat.
            “Don’t cry honey. I love you! And you must promise me,” ucap Hye Mi kepada sepupunya.
            “What do you want?”
          “Tolong jaga Oppa Mochi-ku, Min Ra. Aku mohon padamu. Aahh!! I belived you,” jelas Hye Mi memohon sambil menahan sakitnya.
            “Pasti. Aku menyayangimu, Hye Mi. Maafkan aku,” ujar Min Ra.
            Perlahan Hye Mi melepas pelukannya.
            “Oppa... Kamu belum berjanji padaku.”
           “At least I still love you. I’m yours, Hye Mi~yaa. And I promise you. Your love can life in my heart. Always! I love you! Aku akan menikah dengan Min Ra karena kamu, chagi,”
            “Thanks, my lovely. Saranghae. Sekali lagi, maafkan aku. Aku tidak bisa terus bersamamu.”
Hye Mi memeluk erat Henry. Dan tidak dilepas oleh Henry. Hanya untuk beberapa saat saja. Ya, beberapa saat. Karena setelah itu, Hye Mi lemas dan melonggarkan pelukkannya. Matanya terkatup rapat. Napasnya hilang. Dan dokter memvonisnya meninggal. Suara tangis pun meledak. Terlebih Henry yang tidak berdaya saat mengetahui cinta pertamanya pergi untuk selama-lamanya.

J
            Tiga tahun kemudian...
            “Chagi, thanks for everything. I love you,” ucap seorang pria pada istrinya.
            “Ne Oppa. Because of you, my last love and specially Hye Mi, your angel. Tanpanya, kita tidak akan pernah saling mengenal dan mencintai satu sama lain,” ucap sang istri sambil menatap batu nisan yang ada di hadapannya.
            “Oppa...” panggil Min Ra.
            “Wae?” tanya Henry.
            “Kau sudah berhasil merubah sikap burukmu. Aku yakin, Hye Mi pasti senang melihatnya di sana.”
            “Ya. Semoga. Aku juga tidak akan pernah berubah tanpa hadirnya dirimu saat ini, chagi. Min Ra~yaa, saranghae,” ujar Henry.
            “Nado saranghae.”


A-I, inspirasi from Henry Lau
16 April 2013